Madrasah Diniyyah Penopang Pembentukan Karakter Bangsa

Cilacap – Di era globalisasi di mana arus informasi dan teknologi begitu cepat, efek yang ditimbulkan pun sangat kuat. Efek negatif akibat perkembangan ilmu dan teknologi lebih cepat ditangkap oleh manusia, terutama anak-anak. Karenanya harus diantisipasi menggunakan cara yang canggih pula. Untuk itu diperlukan inovasi dalam pendidikan madrasah diniyah agar lebih berdaya dalam melawan efek negatif.

Sebanyak 40 guru madrasah diniyyah (Madin) Rabu (13/04) mengikuti workshop Pengembangan Mutu Pendidikan Keagamaan di Ruang Rapat Kankemenag Cilacap. Kasi PD Pontren Ms Zuhri mengatakan, bahwa tujuan workshop adalah untuk meningkatkan kualitas proses sekaligus output pendidikan Madin. Guru Madin sebagai aktor utama penentu kualitas harus memiliki kompetensi sesuai kebutuhan perkembangan zaman.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap Mughni Labib menegaskan, bahwa pendidikan keagamaan merupakan pilar utama penentu karakter bangsa. Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang.

“Bangsa ini akan berkembang dan maju pesat jika generasinya berkarakter. Sebaliknya jika generasinya bobrok, maka runtuhlah bangsanya. Saya sangat mengapresiasi semangat guru Madin dalam mengikuti workshop ini. Dan saya berharap banyak kegiatan ini bisa menghasilkan dampak positif yang besar untuk kemajuan Madin,” ungkapnya.

Sehingga guru Madin harus mampu mengembangkan dirinya tertutama kepribadian yang santun dalam segala bidang penghidupan. Siswa madrasah diniyah memerlukan 90% praktek, karenanya figur menjadi unsur pokok yang harus ditingkatkan.

Madin Menjawab Tantangan

Pola hidup masyarakat yang lebih mengutamakan karir atau pekerjaan, membuat anan-anak usia dini kurang diperhatikan. Seorang ibu merasa berkerja itu lebih penting daripada mengurus anak di rumah. Secara otomatis, pendidikan anak diserahkan kepada pembantu dan saat menginjak remaja, lingkungan masyarakat tidak kondusif.

Madrasah diniyah sebagai lembaga pendidikan karakter yang usianya tak kurang dari 14 abad, merupakan jawaban tepat atas persoalan yang terjadi. Kontribusi Madin yang sangat dirasakan hasilnya oleh pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan dan PP No 55 Th 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. (Budiono/gt)