Madrasah terus berbenah demi eksistensi

Karanganyar – Madrasah dari waktu ke waktu sudah semakin membaik, namun tidak dipungkiri masih ada beberapa kekurangan yang harus dibenahi. Maka dari itu perlu ditata kelembagaannya, ketenagaannya, kurikulumnya dan semuanya agar menjadi lebih baik lagi. Kalau tidak begitu nanti prestasi dan kebaikan madrasah akan berhenti, klimaks kemudian anti klimaks, mentok terus melorot.

Demikian disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, H. Musta’in Ahmad saat menyampaikan sambutan pada rapat koordinasi yang diikuti oleh 100 kepala madrasah di Kabupaten Karanganyar, Senin, 29/06/2015. Kegiatan ini berlangsung di serambi masjid dikarenakan aula kantor yang sedang direnovasi.

Salah satu agenda utama pada rakor madrasah ini adalah menindaklanjuti surat dari Kepala Kantor Wilayah Provinsi Jateng perihal perubahan nama madrasah. Dalam surat tersebut dikatakan bahwa banyak madrasah swasta yang menggunakan nama tidak sesuai dengan izin operasionalnya. Penamaah ini sangatlah penting guna proses administrasi kedepannya, salah satunya adalah untuk kebutuhan Data Education Management Information System (EMIS).

Terkait hal tersebut, Mustain mengatakan bahwa lembaga pendidikan dibawah naungan Kementerian Agama (madrasah swasta) harus menaati sistem yang ada. Dalam hal ini adalah Kementerian Agama akan menertibkan kelembagaan madrasah, diantaranya adalah penamaan madrasah, dokumen resmi madrasah, dan lain sebagainya sesuai perundang-undangan yang berlaku.

Singkatnya waktu untuk mengurus permohonan perubahan nama madrasah yang hanya sampai satu Juli 2015 membuat pihak madrasah swasta harus bekerja sama se-efektif mungkin dengan yayasannya. Hal ini dikuatkan juga oleh Kakankemenag bahwa yang akan dilakukan madrasah ini butuh perjuangan dan kerja keras, tidak malah mengeluh dan menyerah.

Di akhir pembinaannya, Kakankemenag berpesan agar guru dan kepala madrasah mengokohkan dirinya sebagai figur-figur teladan, figur-figur contoh. “Madrasah muridnya banyak, tetapi cerita anak-anak madrasah yang nakal banyak, terutama di tingkat tsanawiyah dan aliyah. Cerita ini adalah virus yang akan menurunkan citra baik madrasah, dan jangan sampai ini jadi senjata yang akan ditusukkan ke kita,” pesannya.

Lebih lanjut Kakankemenag mengatakan bahwa berkembangnya madrasah saat ini tidak serta merta dibiarkan oleh pihak-pihak lain, karena mereka juga memiliki kepentingan yang sama. Maka dari itu Kakankemenag berharap agar kepala madrasah memotivasi guru-gurunya.

Menurut data yang disampaikan oleh staf seksi pendidikan madrasah, Wiwik Martini bahwa ada lebih dari lima puluh persen madrasah swasta yang mengalami perubahan nama madrasah. Hal ini tentunya akan dilakukan penertiban sesuai peraturan yang berlaku. (Hadi)