Mahasiswa FITK Jangan Menjadi Produk Gagal

Wonosobo – Kantor Kementrian Agama Kabupaten Wonosobo menggelar seminar peningkatan kompetensi Guru PAI (GPAI) pada pendidikan anak usia dini, Jum’at (24/3/2017). Seminar yang dilaksanakan di Resto Ongklok itu, diikuti 60 peserta yang merupakan penerima bantuan beasiswa S1, dari Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI.

Kasi Pendidikan Agama Islam Kankemenag Wonosobo, Imron Awaludin menyampaikan, peran GPAI memiliki peran sentral dalam membangun mental, spiritual, dan karakter siswa yang Qur’ani ditengah kemajuan teknologi seperti sekarang. Tanpa peran maksimal dari Guru PAI, ancaman dekadensi moral (kemerosotan) siswa akan semakin besar.

“Selain memberi pemahaman keagaman yang benar, guru PAI juga bertanggung jawab dalam menjaga moral siswa,” ucap Imron dalam sambutannya.

Berkenaan dengan laju teknologi, Imron juga tak membenarkan jika ada Guru PAI yang antipati dengan kemajuan teknologi IT. Menurutnya, perkembangan teknologi yang ada harus diikuti, tentu tanpa mengesampingkan pembelajaran agama bagi anak didik. Imron bahkan berujar, kemajuan teknologi bisa dijadikan sarana pembelajaran agama yang efektif.

“Jangan sampai guru PAI malah kalah dengan anak didiknya dalam hal teknologi. Jangan sampai,” pesannya menegaskan.

Kepada 60 peserta penerima beasiswa, Imron berharap, agar ketika lulus kuliah nanti, mampu menjadi sarjana yang benar benar memiliki kualitas. Jangan sampai, menjadi lulusan gagal produk, atau tak tahu harus kemana selepas kuliah selesai.

Menjawab keresahan itu, Dekan FITK UNSIQ, Fatkhurrahman menyampaikan pentingnya sinergi antara kampus, mahasiswa dan Kankemenag. Kasus gagal produk, kata dia, bisa diminalisir jika dari Kememag juga menyediakan upaya tindak lanjut.

“Tindak lanjut usai kuliah, juga perlu disiapkan. Terlebih mahasiswa penerima beasiswa ini sudah menginjak tahun akhir,” katanya dalam sambutan.

Sementara itu, praktisi juga Dosen FITK UNSIQ, Ngarifin Sidiq menjabarkan tentang GPAI yang ideal dalam perspektif islam. Menurutnya idealitas GPAI bisa dilihat dari dua aspek. Pertama, yakni aspek lembaga, meliputi; jumlah siswa, prestasi, komposisi siswa lintas kecamatan/kabupaten.

Kedua, sambung dia, yakni aspek pribadi guru. Yang meliputi; sitem pengajaran yang simpatik (Salam senyum sapa dsbg), disiplin, menyenangkan ketika mengajar, tidak mudah mengeluh dan bertanggung jawab.

“Ketika ingin melihat peran GPAI di sekolah sudah ideal atau belum, bisa dilihat dari 2 aspek itu,” pungkas Ngarifin.(humas/Af)