Manajemen Haji : Transformasi pelayanan berpihak dan berkelanjutan

Boyolali – Manasik haji merupakan salah satu dari beberapa rangkaian pelaksanaan ibadah haji, dalam hal ini jamaah calon haji harus memahami rukun dan syarat dalam melaksanakan ibadah haji. Sejarah penyelenggaraan haji di Indonesia tidak terlepas dari kultur masyarakat indonesia yang beraneka ragam baik dari latar belakang pendidikan, pekerjaan maupun usia, sebagian besar masih banyak yang belum memahami rangkaian-rangkaian pelaksanaan ibadah haji. Dengan kondisi tersebut maka diperlukan pembimbing manasik haji yang profesional dan kompeten yang dapat membimbing jamaah calon haji dalam menunaikan rukun Islam yang kelima. Pembimbing Haji profesional adalah pembimbing yang dapat membimbing jamaah baik secara perorangan maupun secara kelompok, tugas pembimbing haji tidak hanya sebatas membimbing tentang ibadah saja akan tetapi dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada jamaah tentang pelayanan akomodasi, transportasi, kesehatan, serta hak dan kewajiban jamaah baik di tanah air maupun Arab Saudi. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Muhajirin Yanis Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI saat menjadi narasumber kegiatan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Tahun 2015 Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah yang dilaksanakan di Asrama Haji Donohudan Boyolali.

Bimbingan jamaah calon haji dilakukan sejak sebelum keberangkatan, selama dalam perjalanan dan selama di Arab Saudi. Tahun 2015 ini bimbingan manasik haji secara kelompok dilaksanakan di KUA Kecamatan sebanyak 4 kali dan bimbingan manasik massal di Kab/Ko sebanyak 2 kali. Kemudian untuk bimbingan di Asrama haji dilaksanakan oleh petugas kloter yaitu pemantapan bimbingan manasik haji sekaligus konsolidasi antara jamaah dengan petugas kloter. Sedangkan bimbingan selama di Arab Saudi dilaksanakan oleh petugas kloter, pembimbing ibadah sektor dan daker, di pemondokan juga dilakukan bimbingan secara perseorangan, regu dan rombongan serta koordinasi dengan para pembimbing kelompok bimbingan atau KBIH.

Harapannya dengan diadakannya Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Tahun 2015 ini dapat menghasilkan Petugas haji yang profesional, berintegritas, inovatif, bertanggung jawab dan memberikan keteladanan sehingga jamaah calon haji tidak hanya memahami masalah ibadah saja akan tetapi juga memahami prosesi pelaksanaan ibadah haji mulai dari tanah air sampai dengan ketika selama di Arab Saudi serta memahami pelayanan yang diberikan oleh pemerintah baik itu pelayanan akomodasi, transportasi, dan kesehatan. Karena pengelolaan haji bukan hanya sebatas ibadah haji saja akan tetapi juga urusan manajerial dan logistik. Mengutip pernyataan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla “Pengelolaan haji itu bukan hanya urusan ibadah, tapi juga urusan manajerial dan logistik, juga keuangan. Porsi manajerial haji itu jauh lebih besar ketimbang ibadahnya. Bahkan urusan haji ini bisa lebih memusingkan ketimbang perang.”

Kegiatan sertifikasi pembimbing manasik haji ini merupakan salah satu dari program Kementerian Agama dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada jamaah calon haji untuk mewujudkan transformasi pelayanan yang berpihak dan berkelanjutan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kanwil Kemenag Prov. Jateng bekerja sama dengan UIN Walisongo Semarang berlangsung dari tanggal 23 November – 02 Desember 2015. Dalam kegiatan tersebut selain diberikan materi teori tentang Kebijakan Penyelenggaraan Haji di Indonesia dan Arab Saudi juga diberikan materi praktek Percakapan Bahasa Arab dan Inggris, Praktek Manasik Haji serta penanganan masalah dalam penyelenggaraan Ibadah haji. Di Tahun 2015 ini ada beberapa penguatan terkait dengan peningkatan pelayanan kepada jamaah calon haji antara lain : Pertama, Kebijakan Pelunasan Dalam Dua Tahap. Kedua, Kebijakan Kedatangan Jemaah Haji Gelombang Pertama. Ketiga, Hotel di Makkah dan Madinah Setara Hotel Bintang Tiga. Keempat, Upgrade Transportasi Antar Kota Perhajian. Kelima, Layanan Katering. Keenam, Karpet baru dan Penyejuk Udara di Armina. Ketujuh, Aplikasi Haji Pintar. (nas)