Menag ajak aparaturnya meneguhkan Revolusi Mental secara kongkret

Semarang – Minggu (03/01) menjadi hari yang paling bersemangat bagi seluruh jajaran Kementerian Agama di hampir seluruh pelosok tanah air, tidak terkecuali bagi kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Pasalnya 3 Januari merupakan hari jadi Kementerian Agama dimana ditetapkan  beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan.

Keceriaan dan kesemangatan tampak tersirat dari seluruh peserta upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-70 di halaman kantor, seluruh pegawai tampak kompak dengan seragam barunya yakni mengenakan seragam atasan putih dan bawahan gelap sesuai dengan edaran Sekretaris Jenderal Desember 2015 yang lalu.

Upacara peringatan HAB dipimpin langsung oleh Kepala Kanwil Kemenag Prov. Jateng Ahmadi dengan diikuti seluruh pejabat dan pegawai kanwil. Khusus petugas upacara untuk peringatan HAB tahun ini didukung oleh siswa-siswa dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Suruh Kabupaten Semarang, mereka nampak semangat dan kompak menjalankan tugas setelah beberapa kali melakukan latihan demi kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan upacara.

Kakanwil dalam amanatnya membacakan secara utuh teks sambutan Menteri Agama pada peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-70 Kementerian Agama. Adapun poin-poin penting dalam sambutan yang ingin Menag tekankan pada jajarannya meliputi ;

1. Keberadaan Kementerian Agama merupakan wujud “hadirnya negara” untuk memberi jaminan terhadap kehidupan beragama dan kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan untuk beribadat sesuai keyakinan yang dianutnya, sehingga aparatur Kementerian Agama diharapkan mampu memberikan pelayanan dalam peningkatan kehidupan beragama dalam masyarakat.;

2. Sesuai dengan tema, “Meneguhkan Revolusi Mental untuk Kementerian Agama yang Bersih dan Melayani”, peringatan Hari Amal Bakti diharapkan memperkuat komitmen aparatur Kementerian Agama terhadap Integritas, Etos Kerja dan Gotong Royong di era revolusi mental sekarang ini. Melalui perwujudan lima nilai budaya kerja Kementerian Agama, yaitu Integritas, Profesionalitas, Inovatif, Tanggung Jawab dan Keteladanan. Contoh kongkret dengan melakukan upaya Reformasi Birokrasi bukan saja untuk meminimalisir penyimpangan dan malpraktik birokrasi, tetapi sekaligus untuk menciptakan lingkungan positif bagi setiap orang untuk berkarya dan  berprestasi sesuai bidang dan kompetensinya. Birokrasi dituntut untuk berpikir out of the box serta melakukan perubahan guna meraih kebaikan dan kemaslahatan yang lebih luas. Sebagai institusi yang membawa nama “agama”, orientasi kerja sebagai pejabat dan aparatur Kementerian Agama haruslah mencerminkan kemuliaan agama.;

3. Sejalan dengan visi Kementerian Agama, “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang taat beragama, rukun, cerdas, dan sejahtera lahir batin dalam rangka mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong.”, maka strategi pembangunan bidang agama dan pembinaan kerukunan antar-umat beragama diarahkan pada upaya membina, melindungi, melayani dan memberdayakan umat beragama serta mendukung kegiatan keagamaan.

Selepas upacara inti, juga dilakukan penyerahan hadiah-hadian dan piagam kepada beberapa siswa-siswi maupun guru berprestasi ditingkatan nasional, yang langsung diserahkan oleh Kakanwil kepada peraih prestasi. (gt/gt)