Menag : Islam Nusantara, Jadikan Agama sebagai Bingkai NKRI

Wonogiri – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (LHS) melakukan kunjungan kerja sekaligus memberikan ceramah umum di Kabupaten Wonogiri dalam kaitannya Peringatan Isro’ Mi’roj sekaligus hari jadi kota gaplek ke-275, Senin (23/05).

Beliau memaparkan bahwa umat Islam di Indonesia tidak sama dengan umat Islam di belahan dunia lainnya. Karena ajaran Islam masuk ke Indonesia penuh dengan nuansa kedamaian dan toleransi. Islam di Indonesia tidak identik dengan Islam di belahan dunia lain. Islam masuk ke Indonesia penuh dengan kedamaian, hidup di tengah keragaman. Islam Indonesia bisa menghormati HAM, penuh dengan toleransi, yang kita kenal dengan Islam yang rahmatan lil alamin.

Ada dua pola negara meletakkan sebuah agama. Pertama, agama oleh negara dijadikan agama yang resmi, negara itu ya negara itu sendiri, beberapa negara menjadikan agama sebagai agama resmi oleh negara itu, seperti negara Iran, Pakistan, Saudi Arabia, Vatikan, dan lain-lain. Lalu, pola kedua, diterapkan negara lain, seperti Negara-negara Eropa, Amerika, yang memisahkan secara jelas agama dan negara. Negara tidak mengurus secara hal ihwal keagamaan yang dianut suatu bangsa.

“Akan tetapi, Negara Indonesia bukan dari keduanya. “Indonesia oleh para pendahulu, meletakkan agama sebagai sesuatu yang khas dalam bingkai NKRI, Islam Indonesia adalah Islam yang moderat, tawasul, tasamuh, Islam yang mempunyai ciri khas, yaitu Islam Nusantara,” papar Menteri Agama di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri dalam ceramahnya.

Selain Muhafadzah Diperlukan Inovasi

Selain itu Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan bahwa manusia yang hidup di muka bumi ini senantiasa dituntut untuk bermuhafadzoh (menjaga, memelihara, atapun merawat) peninggalan yang baik-baik oleh para pendahulu kita. Tidak hanya cukup sampai di situ, kita juga dituntut untuk berinovasi, melahirkan yang hal-hal baru yang berdampak baik bagi kita semua.

“Kita semua dituntut untuk senantiasa bermuhafadzoh hal-hal yang baik-baik oleh para pendahulu kita, tidak hanya cukup sampai disitu, kita juga dituntut untuk berinovasi, dapat melahirkan hal-hal yang baru yang berdampak baik bagi sesama manusia,” tutur LHS.

Kaitannya dalam hal ini, lanjut Menag, bentuk syukur setiap manusia itu adalah senantiasa memegangi ajaran ini, tidak hanya memelihara, namun mengembangkan warisan yang sudah ada.

“Kita disatukan dengan satu semangat yang sama, artinya nilai agama menjadi acuan kita dalam mewujudkan kesejahteraan bersama,” imbuhnya.

Dikatakan, saat ini kehidupan sudah berada pada wilayah yang tanpa batas, hidup dalam wilayah yang mengglobal atau mendunia. Akan hal ini, melalui media sosial, banyak juga faham yang masuk ke Indonesia tidak sesuai dengan jati diri keindonesiaan, hingga lalu menyebabkan faham agama bisa menjadi faktor disintegrasi bangsa, bisa memecahkan keutuhan kita sebagai bangsa.

Selanjutnya Menag akan menuju Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri untuk meresmikan pemanfaatan gedung kantor baru.(Mursyid_Heri/gt)