Menag : Keragaman dan Keberagamaan Jatidiri Indonesia

Banda Aceh (Inmas) – Masih di acara Pembukaan Pentas PAI VIII Tahun 2017, Menteri Agama berkesempatan hadir dan membuka secara resmi ajang nasional Pekan Keterampilan dan Seni (Pentas PAI) Tahun 2017.  Even nasional yang mengambil tema Merawat Keberagaman, Memantabkan Keberagamaan ini berusaha menyadarkan kita sebagai bangsa Indonesia, yaitu bangsa yang memiliki ciri khas sebagai bangsa yang majemuk.

 “Tema ini menurut hemat saya sangat penting untuk kita gelorakan, terutama ditengah –tengah pelaksanaan pentas PAI ini, sebab PAI sudah seharusnya  dikaitkan dengan karakteristik dan jatidiri keIndonesiaan yang memang tidak terpisahkan dari keberagaman dalam banyak aspeknya dari satu sisi dan nilai-nilai religiusitas dan kegamaan dari sisi yg lain,” papar Menag dalam memberikan sambutan pada malam Pembukaan Pentas PAI 2017 (9/10/2017).

Dua entitas tersebut ,yaitu keragaman dan keberagamaan merupakan jatidiri bangsa Indonesia yang tidak bisa dipisah- pisahkan.

Kemajemukan Indonesia merupakan fitrah dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT  pada Indonesia, baik majemuka dalam suku, bahasa, budaya bahkan agama. Keragaman ini merupakan kekayaan yang amat agung dan perlu dirawat bersama, selain Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaaan religiusitas yang begitu tinggi.

Cara yang paling efektif merawat keragaman itu adalah menghadirkan nilai-nilai religiusitas itu menjadi perekat dan  kohesi sosial yang mampu melahirkan kesadaran, pemahaman dan  perilaku yang saling menjunjung tinggi akan  eksistensi antar sesama sehingga terjalin rasa persaudaran dan  keharmonisan diantara kita, dengan kata lain memantapkan nilai agama sebagai sumber perekat keberagaman.

“Dalam konteks ini , melalui  pentas PAI mari kita rawat keragaman sebagai kenyatan fraktual keIndonesiaan dalam memantapkan nilai-nilai keagamaan kita,” ajak Menag.

PAI sudah seharusnya memperkuat identitas keIndonesiaan, menjadi instrumen untuk meneguhkan semangat  nasionalisme dan semangat kebangsaan. Dengan demikian, posisi guru dan siswa pada  sekolah sudah seharusnya tidak perlu lagi mempertentangkan NKRI dengan agama, akan tetapi justru sebaliknya. Semangat nasionalisme dan membangun NKRI merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semangat keagamaan kita.

“Mencintai tanah air merupakan bagian dari cinta terhadap agama kita. Semangat dan gelora inilah yang sesungguhnya melatarbelakangi memperjuangkan NKRI, atas dasar militansi agamanya menegakkan dan memperjuangkan bangsanya,” jelas Menag.

Menteri Agama menyampaikan apresiasinya yang setinggi-tingginya, terima kasih yang sebesar-besar kepada seluruh panitia penyelenggara Pentas PAI, jajaran Pemerintah Provinsi Aceh utamanya kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh beserta seluruh masyarakat Aceh atas kontribusinya sehingga Pentas PAI ini dapat terselenggara.

Pada akhir sambutan, Menteri Agama menyampaiakn pesan dan motivasi khusus pda peserta lomba untuk berkompetisi secara sportuf dan jujur.

“Selamat mengikuti arena lomba pentas PAI dan selamat berkompetisi secara sportif dan jujur, karena kalian semua pada telah layak menjadi juara, setidaknya juara dalam mengendalikan diri masing-masing sehingga dalam mengikuti ajang kompetisi kita mampu mengendalikan diri dan mengalahkan diri kita dengan berperilaku sportif dan jujur. Terus tanamkan semangat menuntut ilmu, jalin pesaudaran, tingkatkan kualitas keimanan dan semangat nasionalisme ke Indonesiaan , sebab masa depan Indonesia ada  ditangan kalian semua,” seru Lukman.

Dengan mengucap Bismillah, Menteri Agama secara resmi membuka Pentas PAI VIII 2017 dengan menabuh 3 (tiga) kali Rapai Pasai dan selanjutnya pembukaan dilanjutkan dengan tarian kreasi aceh yang diikuti oleh kurang lebih 500 penari. (Wul/Wul)