Menag : STG Nasional Harus Mampu Membumikan Dhamma Buddha

Mungkid (Inmas) – Pembukaan  Swayamvara Tripitaka Gatha (STG) Nasional X tahun 2017 berlangsung dengan khidmat dan meriah. Kegiatan ini diikuti kurang lebih sebanyak 1600an peserta dari seluruh Indonesia yang datang dari 32 provinsi yang mengirimkan kontingennya. Acara tersebut dibuka oleh Menteri Agama,  Lukman Hakim Safuddin di Taman Lumbini area pelataran candi agung Candi Borobudur yang berada di Magelang, (Kamis, 2/11).

Acara pembukaan Swayamvara Tripitaka Gatha (STG) Nasional X tahun 2017 diawali dengan pembacaan  Dhammapada oleh juara Dhammapada  STG Nasional IX  Tahun 2014 dan dilanjutkan dengan defile kontingen peserta STGN X Tahun 2017. Tampak hadir pada acara tersebut, antara lain : Gubernur Jawa Tengah yang kali ini diwakili oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmiko yang didampingi Asisten Pemerintahan dan Kesra, Edi Joko Pramono, Ketua Umum LPTG (Lembaga Pengembangan Tripitaka Gatha) Arief Harsono, Dirjen Bimas Buddha Caliadi, Kepala Kanwil Kementerian Agama se Indonesia, Bupati Magelang, Walikota Magelang dan Forkompinda Kabupaten Magelang

Dalam sambutan pembukaan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap pelaksanaan  STG  Nasional X yang telah membudaya di masyarakat Buddha dapat berkembang baik dari segi syiar  dan kualitas pelaksanaannya sehingga dapat mewarnai  wajah umat Buddha dan bangsa Indonesia.

“STG Nasional harus mampu membumikan dhamma yang mulia sehingga lebih mudah dipahami  dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat. Tujuan dan makna pelaksanaan ini bukan hanya prestasi semata namun  lebih utama lagi tentang bagaimana lebih membumikan lagi ajaran dhamma buddha. Menjadikan dhamma buddha sebagai nafas sekaligus sebagai pegangan hidup yang hakiki dan sebagai kepribadian umat buddha,” papar menag.

Menag mengingatkan hakikat, makna dan tujuan STG supaya dipegang teguh sehingga buddha dhamma benar-benar dapat diresapi, dapat dipahami, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari karena ketika digaungkan dhamma Buddha maka sebenarnya sedang diagungkan nilai-nilai kemanusiaan, nilai nilai yang mengedepankan keshalihan sosial, nilai-nilai pada pembelaan yang lemah, mengutamakan pembelaan pada yang miskin bukan nilai-nilai keserakahan seperti mengumpulkan harta dan hanya menumpuk untuk diri sendiri.

Mencermati dan mengkaji perkembangan agama  Buddha dalam masa  kerajaan  Majapahit dan Sriwijaya, menjadi tantangan tersendiri umat Buddha untuk menjadikan sumber pemikiran dunia, menjadi sumber pembelajaran agama Buddha dengan  negara lain dimana negara lain harus melihat dan belajar agama Buddha di Indonesa karena Buddha pernah mengalami masa kejayaan, walaupaun sekarang bukan menjadi umat yang mayoritas di Indonesia namun tetep senantiasa memberikan kontribusi sumbangsih  secara nyata dalam ikut mewujudkan Indonesia yang rukun, damai dan harmonis.

Berkenaan dengan tema STGN X 2017 yang mengusung tema besar mengenai revolusi mental, Menag mengutip dharma dalam kitab suci Tripitaka yang mengajarkan kebenaran dan kemoralan.

“Dhamma itu dilaksanakan dalam  bentuk praktik kesusilaan, keteguhan pikiran dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Menag.

Revolusi mental memerlukan pemahaman terhadap hakikat hidup, berupa proses terjadinya segala sesuatu secara terus menerus dengan disertai pola sebab akibat yang berlaku. Revolusi mental merupakan gerakan hidup baru yang berlandaskan pada kesusilaan, keteguhan pikiran dan kebijaksanaan. Revolusi mental akan mengubah segala sikap yang menghalalkan segala cara menjadi peduli dan tidak melakukan hal yag tidak baik.

Sebelum mengakhiri sambutannya Menag mengajak untuk menjaga kebersamaan  dalam berbangsa dan bernegara, menjaga optimisme dalam memahami tantangan-tantangan yang semakin tidak sederhana terutama tantangan global.

“Jadikan STG Nasional ini sebagai stimulan untuk meningkatkan pengahayatan  kecintaan dan pengamalan agama Buddha yang mengajarkan penuh cinta kasih dan kasih sayang terhadap sesama. Semoga revolusi mental dapat meningkatkan kehidupan berbangsa dan bernegara kita sejahtera dan damai,” harap Menag.

Menutup sambutannya, Menag secara resmi membuka perhelatan nasional STGN X tahun 2017 secara simbolis dengan memukul genta dan turut serta mendampingi Wakil Gubernur Jateng, Ketua Umum LPTG dan Dirjen Bimas Buddha. (Wul)