Mendidik Anak Bangsa dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika

Magelang – Kementerian Agama mengemban tugas yang sangat mulia yaitu menciptakan kehidupan agama yang harmonis sebagaimana amanat pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 dengan mengembangkan seluruh misi kemajemukan bangsa Indonesia. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Malik Fajar, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dalam kunjungan kerja ke Kantor Kemenag Kabupaten Magelang di Gedung Serba Guna Kankemenag Kab. Magelang, Jumat, (09/12).

Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Wantimpres M. Maksum Isa, Kepala Subbag Kesehatan, Kependudukan, dan Lingkungan Hidup Bagian Kesra Biro Data dan Informasi Fikroh Amali, staf anggota Wantimpres Dhika Aburizal Pratomo dan Oktaviani Dwi Lestari, Kepala Kantor Kemenag Kab. Magelang Kudaifah, Kepala Subbag TU Ngatmin, Kepala Seksi,  Penyelenggara, Kepala MAN/MTsN/MIN , Kepala KUA, Pengawas Pendidikan Islam dan Aparatur Sipil Negara di lingkungan Sekretariat.

Menurut Malik Fajar, sejak awal reformasi negara telah menata dalam mewadahi  tata kehidupan yang majemuk dalam bingkai demokrasi.  Tantangan yang dihadapi oleh Kementerian Agama akan menjadi sangat dinamis karena perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya peran Kemenag dalam bidang pendidikan.

“Pendidikan tidak bergerak di ruang vakum, artinya pada kenyataannya sering dijumpai ada hal-hal yang tidak sambung dengan apa yang diperoleh di sekolah dengan kondisi di masyarakat,” ungkapnya.

“Saat ini orang tua semakin sibuk, zaman berubah cepat, semua itu menjadi tantangan pendidikan masa kini,” lanjutnya.

Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, Malik Fajar menyarankan agar generasi saat ini harus diselamatkan dari hal-hal yang menyimpang melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.

“Madrasah harus diimbangi dengan visi untuk kerja melalui pendidikan sepanjang hayat (education for life). Tugas Kementerian Agama adalah memfasilitasi pendidikan yang sangat majemuk ini,” harapnya.

Malik Fajar menyampaikan bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan seharusnya tidak dipisah-pisahkan antara pendidikan formal dan informal karena sebenarnya pendidikan itu adalah menyatu (in between) dalam satu gerak sehingga sangat diperlukan respon dari pemilik pendidikan itu sendiri.

“Menjadi tantangan bagi kita semua bagaimana menggerakan fasilitas pendidikan yang ada sehingga mencapai hal yang kita harapkan,” katanya.

Malik Fajar berpesan agar anak-anak masa kini dapat diselamatkan dari suasana kekerasan  dan radikalisme melalui kerja sepenuh hati melalui pendidikan yang  mengedepankan keikhlasan dan penuh dedikasi.

“Kementerian Agama memainkan peran besar dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Setiap pegawai Kemenag harus memberi contoh sebaik-baiknya di masyarakat,” pesannya. (m45k/gt)