Mendidik Masyarakat melalui Gerhana Matahari Total

Sukoharjo – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukoharjo melalui Penyelenggara Syari’ah menggelar rapat koordinasi terkait pelaksanaan Sholat Gerhana Matahari Total (GMT) di Gedung Aula Koperasi IPA Kankemenag, Kamis, (03/03). Rakor dihadiri jajaran pejabat Kankemenag Kabupaten Sukoharjo, Kepala KUA, Pengawas Pendidikan Islam, Ormas Islam, Perwakilan Bagian Binsos Sekretariat Daerah, Satpol PP, Polres dan Takmir Masjid Baiturrahmah. Rencananya Sholat Gerhana Matahari akan diadakan di Masjid Agung Baiturrahmah pada pada pukul 07.00 WIB. Bertindak sebagai Imam sholat adalah Ustadz Asrofi Al Hafidz dari Pondok Pesantren Ma’had Aly Baitul Hikmah Sukoharjo dan sebagai Khotib Ketua MUI Kabupaten Sukoharjo Yazid Anwari.

Menurut Nursyahid, Gara Syari’ah Kankemenag Sukoharjo, pada tanggal 09 Maret 2016 tampaknya akan menjadi hari yang bersejarah bagi Indonesia, karena pada hari itu hanya Indonesia-lah satu-satunya Negara yang akan dilintasi oleh GMT. “Ada sekitar 10 Provinsi di wilayah Indonesia yang akan dilalui oleh GMT besok,” tutur Nursyahid.

Nursyahid menceritakan bahwa sebelumnya Indonesia juga pernah mengalami GMT serupa pada tanggal 11 juni 1983. “Waktu itu tahun 80-an masyarakat kita mensikapinya dengan pola pikir yang masih umum,” terang Nursyahid, lebih lanjut dia menjelaskan sebuah hadist yang menceritakan terjadinya gerhana matahari di masa Nabi Muhammad SAW, ketika itu putra Rosulullah yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa gerhana matahari adalah tanda-tanda ke-Maha Besaran dan ke-Maha kuasaan Allah SWT dan tidak ada kaitannya dengan nasib yang menimpa seseorang.

Bertolak dari kisah Nabi tersebut, Gara syari’ah sebagai ujung tombak terlaksananya Syariah Islam dengan baik di Kabupaten Sukoharjo khususnya, Nursyahid merasa bertanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya di kabupaten sukoharjo agar mampu mensikapi terjadinya gerhana matahari dengan cara-cara sebagaimana yang dianjurkan oleh Agama. “Sunnah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW pada saat terjadinya gerhana matahari dengan melaksanakan Sholat Gerhana, sehingga umat Islam seyogyanya juga mencontoh perilaku Nabi tersebut,” ajak Nursyahid.

Sejalan dengan itu, Masdiro Kepala Kankemenag Suoharjo mengajak seluruh elemen masyarakat dan ormas Islam yang hadir dalam rakor tersebut untuk bersinergi memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang bagaimana seharusnya bersikap jika terjadi gerhana matahari tersebut, “Sholat gerhana Matahari ini hukumnya sunnah Muakkadah artinya Sunnah yang ditekankan dan baru pertama kalinya diadakan sholat gerhana matahari di tingkat Kabupaten Sukoharjo,” tutur Masdiro menegaskan.

“Dengan diadakannya sholat gerhana ini diharapkan jika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan dimasa-masa yang akan datang masyarakat tidak akan lagi terjebak dalam nuansa klenik yang bertentangan dengan Syariat Agama,” harap Masdiro menambahkan. (DjP)