Menggapai Haji yang Mabrur, CJH Wajib Siap Diatur

Purbalingga – Sebanyak 587 orang Calon Jemaah Haji (CJH) Kabupaten Purbalingga Tahun 1440 H/ 2019 M mengikuti Sosialisasi Penyelenggaraan Haji yang digelar Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga dalam 2 hari, Rabu-Kamis (21-22 /11) di Aula Uswatun Khasanah.

Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah, Ratmono menjelaskan, kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan dalam 4 angkatan. Angkatan 1 meliputi Kecamatan Purbalingga (60 orang), Padamara (63 orang) dan Kalimanah (30 orang). Angkatan 2 dari Kecamatan Kutasari (22 orang), Bojongsari (19 orang), Mrebet (43 orang), Pengadegan (17 orang) dan Kaligondang (49 orang). Angkatan 3 dari Kecamatan Bobotsari (47 orang), Karangreja/Karangjambu (8 orang), Karanganyar (35 orang), Kertanegara (20 orang) dan Karangmoncol (35 orang). Angkatan 4 dari Kecamatan Rembang (19 orang), Bukateja (55 orang), Kejobong (17 orang) dan Kemangkon (45 orang).

“Mereka yang hadir adalah yang sudah pasti berangkat melaksanakan ibadah haji tahun 2019, yang telah ditetapkan oleh Kementerian Agama RI setelah sekitar 8 tahun menunggu. Karena mereka merupakan pendaftar pada tahun 2011 lalu,” ungkap Ratmono menjelaskan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Karsono dalam sambutannya mengajak para CJH agar bekerja sama mewujudkan cita-cita suksesnya penyelenggaraan ibadah haji sehingga predikat haji mabrur dapat diraih.

“Syaratnya sukses haji mabrur adalah jemaah harus siap diatur. Artinya, mulai hari ini dan seterusnya akan ada kegiatan berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji. Ada sosialisasi, pembuatan paspor, bimbingan manasik haji di tingkat kecamatan dan kabupaten hingga pemberangkatan dan pemulangan. Semua akan diatur oleh pemerintah melalui Kantor Kementerian Agama dan Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Untuk itu diharapkan CJH dapat mengikuti komando pemerintah dengan sabar dan ikhlas,” tegas Karsono.

Menurutnya ada 3 kesuksesan penyelenggaraan ibadah haji yang diharapkan. Yakni jemaah haji yang mandiri dalam perjalanan, mandiri dalam kesehatan dan mandiri dalam peribadahan.

“Jangan menjadi haji minimalis yang bermodal bismillah dan doa sapu jagad saja. Tetapi jadilah jemaah haji yang maksimal dan berkualitas. Doa-doa dipelajari dan dihafalkan. Sempurnakanlah ibadah haji sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW,” ujarnya memotivasi.

Inovasi Kemenag dalam Urusan Haji  

Karsono menginformasikan, di bidang urusan haji pada tahun 2018 Kementerian Agama RI mendapat apresiasi dari Jemaah Haji karena selama di Arab Saudi pelayanan ibadah haji dinilai sangat memuaskan. Dan pada 2019 Pemerintah berencana akan terus melakukan inovasi agar penyelenggaraan ibadah haji Indonesia terasa nyaman dan berjalan sebaik mungkin.

Bentuk inovasi tersebut di antaranya penentuan maktab berdasarkan asal daerah. Sebagai contoh jika sebelumnya CJH Purbalingga ditempatkan bersama CJH asal Sumatera, maka pada 2019 mereka akan ditempatkan bersama CJH kabupaten lain di Jawa Tengah. Ini bertujuan agar komunikasi antar jemaah semakin baik. Inovasi lainnya dalam hal konsumsi, makanan yang disediakan akan disesuaikan dengan kondisi khas daerah masing-masing. Diharapkan dengan cara tersebut tidak ditemukan lagi jemaah yang malas makan dengan alasan menu yang tidak sesuai dengan lidah mereka.

“CJH yang tidak cocok makanan Arab, akhirnya tidak makan dan berujung sakit. Sehingga ibadah haji pun tidak bisa terlaksana dengan sempurna,” ungkapnya.

Selain itu direncanakan urusan konsumsi jemaah haji selama di Tanah Suci juga akan diurus oleh pemerintah.

 “Jika rencana ini tercapai, jemaah haji tidak perlu lagi membawa beras atau rice cooker, sehingga tidak merepotkan,” pungkasnya. (sri_sar/gt)