Mengobati Hati yang Berkarat

Demak – Pagi yang cerah seluruh pegawai pemerintahan Kabupaten Demak termasuk pengerahan personil Kementerian Agama Kabupaten Demak, ke pendopo pemerintahan Kabupaten Demak, guna mengikuti siraman rohani yang sudah terjadwalkan pada awal minggu di setiap bulan, keseluruhan mencapai 500an pegawai yang akan mengikuti kegiatan tersebut.

Bupati M. Nastir, Muspida dan Muspika, ikut hadir dalam acara rutin tersebut, M. Thobiq selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak tidak ketinggalan mengikuti kegiatan pengajian jum’at rutin dengan mengambil tema Tombo Ati Sing Niyeng (obat hati yang berkarat).

Pengajian dibawakan oleh KH. Abdul Syakur pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Jogoloyo, memimpin kegiatan dengan doa, tahlil dan bacaan Asmaul Husna, hal tersebut menggiring suasana hati dan fikir seluruh peserta menjadi lebih khidmat dalam mengikuti pengajian rutin di pendopo Kabupaten Demak, Jumat (03/02).

“Bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging, jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad, jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad, ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung),” urai KH. Abdul Syakur kepada para jemaah.

Ditambahkan bahwa makna hati adalah bagian paling mulia dan murni dari seluruh bagian tubuh manusia, disamping hati juga merupakan bagian tubuh manusia yang paling rawan terkena fitnah syubhat dan syahwat, sehingga mudah terbolak-balikkan.

Mengutip sebuah hadits, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.

“Oleh sebab itu Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik yang artinya Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu,” urainya.

Segumpal darah tersebut juga dapat diartikan sebagai jantung, dimana jantung merupakan salah satu organ vital manusia yang dengannya darah dapat dipompa ke seluruh tubuh. Apabila jantung tersebut rusak maka terganggulah seluruh proses dalam tubuh akibat darah yang tidak diedarkan dengan baik, seseorang yang divonis dokter terkena penyakit jantung maka hidupnya akan terasa susah, banyak pantangan (larangan) makanan sehingga harta berlimpah bukanlah indikator kebahagiaan.

“Kebahagiaan letaknya di dalam hati dan setiap manusia memiliki hati, sehingga kebahagiaan itu milik semua orang, baik si kaya maupun si miskin, asalkan ia mampu menata dan membersihkan hatinya dari karat-karat yang mematikan hati,“ pungkas KH. Abdul Syakur dilanjutkan dengan doa sebagai penutup rangkaian kegiatan bulanan tersebut. (tgh/gt)