Meningkatkan Kualitas Data dan Kinerja Melalui SIMPENAIS

Surakarta – Di era globalisasi perkembangan informasi yang berbasis aplikasi online berkembang begitu pesat. Data terkini dapat dilihat secara langsung diseluruh Indonesia bahkan dunia karena dapat diakses dimanapun. Salah satu aplikasi tersebut adalah Sistem Informasi Penerangan Agama Islam (SIMPENAIS). Apliaksi SIMPENAIS berisi tentang 17 data-data keagamaan, diantaranya penyuluh agama PNS dan Non PNS, Majelis Taklim, Ormas Islam, Qari dan Qariah, Mufassir mufassirah, Dewan Hakim, dan lain-lain. SIMPENAIS juga menyimpan data-data penyuluh by name by address yang dapat dilacak keberadaannya dan bisa terkoneksi langsung dengan para pengambil kebijakan.

SIMPENAIS ini sebenarnya sudah sudah berjalan cukup lama namun belum efektif, karena masih ada beberapa penyuluh yang belum bisa menggunakan aplikasi ini. Untuk itulah Kemenag Kota Surakarta melalui Seksi Bimas Islam menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang SIMPENAIS di Hotel Swiss Bellin Saripetojo, Solo, yang diikuti 61 orang terdiri dari perwakilan dari KUA, Penyuluh fungsional dan Penyuluh Non PNS se Kota Surakarta. (Rabu, 5/4)

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Muslim Umar dalam arahannya saat membuka acara tersebut mengatakan bahwa menjadi penyuluh agama Islam harus bangga karena ini tugas yang mulia dan bernilai ibadah.

“Lakukan tugas ditengah masyarakat dengan sebaik-baiknya penuh keaktifan dan kesabaran,”ucap Muslim Umar.

Terkait dengan SIMPENAIS, Muslim Umar mengatakan bahwa aplikasi ini  merupakan inovasi yang sangat baik dan saat ini terus dikembangkan oleh Ditjen Bimas Islam dalam rangka meningkatkan kualitas kinerja lembaga dan layanan publik.

Lebih lanjut Muslim Umar menjelaskan bahwa penyuluh sebagai salah satu pelayan publik harus memiliki tekad yang kuat dan berkomitmen agar tugas berhasil dengan maksimal. “Sebagai penyuluh agama Islam, maka sikap yang harus dimiliki ialah uswatun hasanah, sehingga bisa memberikan contoh yang baik terhadap ummat Islam lainnya,” tandasnya.

Sementara itu dalam laporannya Kasi Bimas Islam, Nasiruddin mengatakan bahwa belum seluruhnya dari peserta yang mengikuti FGD  kali ini mengerti dan paham tentang SIMPENAIS.

“Mereka akan diberikan bekal mengenai kepenyuluhan dan bagaimana menggunakan SIMPENAIS, agar pendataan berjalan dengan baik dan akurat , sehingga dengan akurasi data ini, akan memudahkan pusat untuk menetapkan anggaran setiap tahunnya,” ujar Nasiruddin.

Kota Surakarta sendiri menurut Nasiruddin, untuk pendataan masjid baru berjalan 80 persen dari jumlah total 600 masjid di Kota Surakarta, sedangkan Ormas Islam yang terdata resmi mencapai 33, dan 40 penyuluh agama Islam non PNS untuk  5 kecamatan.

“Untuk majelis taklim pendataannya juga belum bisa berjalan dengan lancar, karena rata-rata mereka berada dibawah ormas Islam,” jelas dia.

Nasiruddin mengharapkan kepada seluruh peserta agar menyimak dengan baik materi yang diberikan sehingga nantinya tidak hanya output kegiatan yang bagus tetapi juga outcome-nya juga. Selain itu juga perlunya membangun koordinasi antar penyuluh, baik yang fungsional maupun yang non PNS.

“Komunikasi yang baik perlu dijalin antar penyuluh agama Islam agar terbina kerja sama dan koordinasi, sehingga dalam penginputan data SIMPENAIS nantinya menjadi suatu data yang jelas dan valid,” pungkas Nasiruddin. (rma-abc/Wul).