Meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan dengan PTK

Wonogiri – Beberapa penyebab kurangnya keterampilan guru agama Islam dalam penyusunan PTK diantaranya, kurangnya kemauan untuk membaca, menelaah, mengkaji, mengkritisi dan menulis, sehingga sangat berpengaruh pada penyusunan karya tulis ilmiah yang berstandar. Sikap apatis terhadap kemajuan dunia pendidikan dan teknologi, juga menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.

Sedangkan tujuan PTK adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah selain itu untuk meningkatkan dan atau memperbaiki praktik pembelajaran di sekolah, meningkatkan relevansi pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan.

Demikian di sampaikan Kepala Kankemenag Wonogiri, Drs. H. Safrudin, MSI acara pembukaan Diklat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi Guru PAI SMP se Kabupaten Wonogiri, 26 Mei 2015 – 09 Mei 2015 di Aula SMP Muhammadiyah 8 Wonogiri, hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri, Kasi PAKIS Kankemenag Wonogieri, dan Pengawas PAI dan di ikuti oleh 100 orang GPAI SMP se Kabupaten Wonogiri.

Untuk itu Safrudin berpesan KKG PAI SMP harus bisa membuka ruang pendidikan dan pelatihan bagi guru PAI SMP melatih keterampilan dalam penyusunan karya ilmiah dengan baik. Diklat ini pula diharapkan mampu mengilhami para guru PAI lainnya dengan berbagai model ataupun media pembelajaran.

Sedangkan kepala Dinas Pendidikan Kab. Wonogiri, Drs. H. Siswanto dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap upaya KKG PAI SMP yang menyiapkan ruang dalam rangka melatih keterampilan guru PAI untuk penyusunan karya ilmiah yang berstandar. Menurutnya, kualitas guru PAI saat ini harus terus ditingkatkan. Seiring dengan sumber belajar anak didik yang terus berkembang. Tidak lagi bergantung pada guru, melainkan telah bersumber dari berbagai akses termasuk akses IT.

Selain itu guru PAI harus menekankan bagaimana pengamalan nilai-nilai agama pada peserta didik secara praktis, bagaimana sholatnya, puasanya peserta didik serta pengamalan dalam membaca Kitab Suci Al Qur’an harus benar-benar di tekankan karena merupakan pembentukan karakter budi pekeri dan akhlaq.

Menurut Siswanto Guru PAI dituntut untuk terus meningkatkan kualitas dan profesionalitasnya, mampu mengakses dan menguasai IT, serta terus berinovasi menemukan model dan strategi pembelajaran yang baik, agar tidak diprotes oleh anak didiknya. “Profesionalitas guru bukan diatas kertas sertifikat, melainkan diukur dari kemampuannya dilapangan dalam memberikan pembalajaran dengan baik”, imbuhnya. (Mursyid_Heri)