Menjadi Pendidikan Agama yang Mampu Menjawab Tantangan Global

Magelang – Guru Pendidikan Agama Katolik sebagai tenaga profesional mempunyai tugas membimbing, membina, dan mengarahkan peserta didik dalam menumbuhkan semangat keunggulan, motivasi belajar, dan memiliki kepribadian serta budi pekerti luhur sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Namun saat ini, guru Pendidikan Agama Katolik dalam melaksanakan tugas profesionalnya menghadapi tantangan yang berat dalam mengawal masyarakat abad 21.

Hal tersebut disampaikan oleh Penyelenggara Katolik Kantor Kemenag Kabupaten Magelang Stanislaus Zeno Taroreh, dalam Workshop Kurikulum 2013 Guru Pendidikan Agama Katolik di Oxalis Regency Hotel, Magelang, Selasa (24/05).

Workshop berlangsung dari tanggal 24 s.d. 27 Mei 2016, diikuti oleh 40 orang Guru Pendidikan Agama Katolik PNS, Yayasan, dan Guru Agama Tidak Tetap yang mengajar pada SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Magelang.

Disampaikan, sebagai insan profesional pendidikan, Guru Pendidikan Agama Katolik perlu melihat karakteristik masyarakat di era globalisasi. Ada tiga karakteristik masyarakat abad 21 yaitu: (1) masyarakat teknologi, (2) masyarakat terbuka, dan (3) masyarakat madani.

Pertama, masyarakat teknologi adalah suatu masyarakat yang telah melek teknologi dan menggunakan berbagai jenis aplikasi teknologi sehingga mengubah cara berpikir dan bertindak yang mengubah bentuk dan pola hidup manusia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Menghadapi kondisi masyarakat teknologi ini, guru Pendidikan Agama Katolik harus dapat memberikan arahan dan bimbingan agar penguasaan teknologi tidak menjadi bumerang bagi masyarakat, yang disebabkan kurangnya penghayatan terhadap etika.

Untuk menjawab tantangan ini, guru Pendidikan Agama Katolik dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan terknologi terkini kepada peserta didik, dan dapat memberikan pemahaman etika yang benar agar moral bangsa tetap terjaga dengan baik, dan pelanggaran-pelanggaran etika terkait teknologi informasi dapat dihindari.

Kedua, masyarakat terbuka lahir karena teknologi komunikasi yang demikian maju, membuat dunia menjadi satu seolah tanpa sekat, komunikasi antar pribadi menjadi makin dekat dan hampir tanpa hambatan. Dalam masyarakat terbuka, antara bangsa satu dengan bangsa lain dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Dengan demikian akan timbul dominasi atau penguasaan oleh mereka yang kuat, yang berprestasi dan yang memiliki modal yang kuat terhadap masyarakat yang lemah, tidak berdaya dan miskin.

Menghadapi masyarakat terbuka, guru Pendidikan Agama Katolik harus dapat mengembangkan kapasitasnya dalam mempersiapkan peserta didik menjadi manusia dan warga negara yang ulet, kreatif, dan berprestasi agar mempunyai kemandirian dan berdaya saing tinggi.

Ketiga, masyarakat Madani adalah wujud dari masyarakat terbuka, masyarakat yang saling menghargai satu dengan yang lain, yang mengakui akan hak asasi manusia, menghormati prestasi individu, dan masyarakat yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dari masyarakatnya.

Dalam masyarakat Madani, guru Pendidikan Agama Katolik dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menguasai keahlian dalam suatu bidang yang berkaitan dengan iptek, mampu bekerja secara profesional dengan orientasi mutu dan keunggulan, dan dapat menghasilkan karya-karya unggul yang mampu bersaing secara global sebagai hasil dari keahlian dan profesionalitasnya. Dan tidak kalah penting, di era ini guru diharapkan lebih bermoral dan berakhlak daripada masyarakat umum. (m45k/gt)