Merawat Toleransi Dalam Gempuran Radikalisme

    Isu toleransi, radikalisme dan terorisme di Indonesia tidak bisa dianggap sebelah mata. Paham yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia ini terbukti mampu membuat generasi muda kita menjadi generasi yang intoleran. Masyarakat yang selama ini dikenal dengan murah senyum, ramah, dan suka menolong antar sesama justru dikotori dengan sikap intoleran kelompok radikal. Akibatnya, toleransi yang dikenal menjadi ciri khas masyarakat Indonesia pelan-pelan mulai pudar. Dalam kasus penodaan agama misalnya. Tidak hanya secara nasional, dunia internasional juga menyoroti Jakarta yang mulai dipenuhi dengan kelompok radikal dengan mengatasnamakan agama.

   Sejak kemunculan kelompok radikal di Indonesia, merawat toleransi sepertinya menjadi hal yang sulit di Indonesia. Padahal, negeri ini besar dari sikap toleransi antar umat beragama. Indonesia tidak hanya mengakui Islam, tapi juga mengakui Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu dan aliran kepercayaan. Meski dalam perkembangannya, penduduk Indonesia mayoritas memilih muslim, tapi pemeluk agama yang lain juga menjadi fakta yang tidak bisa dibantah. Karena itulah, para pendiri negeri ini mengusung nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Kenapa tidak mengusung nilai-nilai Islam? Karena Indonesia memang bukan negara Islam. Tapi Indonesia merupakan negara beragama. Hal tersebut disampaikan oleh anggota Tim Forum Komunikasi Penanggulangan Teroris ( FKPT ) Jawa Tengah Syamsul Huda S. Sos ,Msi pada kegiatan Dialog lintas Agama Tingkat Kabupaten Brebes yang diadakan oleh Subag Hukmas  Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Kamis, 15 Nopember 2018 di Hotel Grand Dian Brebes.

   Sementara itu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah   Drs H Farhani, SH, MM yang juga Nara sumber kegiatan tersebut menjelaskan, pentingnya menjaga kerukunan umat beragama, menjunjung nilai toleransi dengan saling menghargai dan menghormati sesama pemeluk agama. Sikap toleransi ini adalah bagian dari tiga pilar kerukunan umat beragama.

   Lebih lanjut Farhani menekankan sesama pemeluk agama harus saling kerja sama, seandainya ada kelompok yang tidak mau kerja sama maka patut ditanyakan kerukunannya. Toleransi dan kerja sama tidak akan berjalan apabila tidak dilengkapi dengan dialog yang bagus. Ketika dalam kelompok masih ada komunikasi atau dialog maka disitu ada kerukunan. Ini yang dinamakan tiga pilar kerukunan beragama ( Toleransi, Kerja sama dan Dialog ). Maka orang yang mulia adalah orang yang mau memahami perbedaan, imbuh farhani.

   Jika mengacu pada fakta diatas, sudah semestinya tidak ada lagi perdebatan mengenai latar belakang agama. Karena meski berbeda agama, kita semua tetap satu, yaitu Indonesia. Apalagi, semua agama mengajarkan kedamaian dan tidak ada satupun yang mengajarkan kekerasan. Sudah semestinya pula jika memang kita mengklaim sebagai masyarakat yang religius, segala perkataan dan perilaku kita seharusnya juga mencerminkan nilai-nilai agama. Dalam Islam misalnya, mengajarkan untuK saling mengenal satu dengan yang lainnya. Karena Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, maka kita dianjurkan untuk saling mengenal. Jangan biarkan radikalisme merusak toleransi yang sudah berjalan di negeri ini. jelas Drs. H Taslim Nara sumber dari FKUB Provinsi Jawa Tengah.