MIN 2 Sukoharjo Kenalkan Potensi Daerah Lokal Melalui Outing Class

SUKOHARJO – Proses belajar mengajar tidak selalu dilakukan di dalam kelas. Pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas supaya pembelajaran menjadi lebih aktif dan menyenangkan sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Hal itulah yang dilakukan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Sukoharjo pada Kamis (11/10/2018).

Sebanyak 162 siswa kelas satu melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas (outing class) dengan mengunjungi sentra industri batik di Dusun Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Kecamatan Sukoharjo. Kegiatan yang dirancang oleh guru dan paguyuban orang tua siswa tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari pengenalan potensi lokal di kabupaten Sukoharjo.

Sebagaimana disampaikan oleh koordinator outing class, Eni Kasiyanti, bahwa dipilihnya industri batik di Kedunggudel untuk tujuan outing class dengan pertimbangan di daerah tersebut sangat menunjang sarana dan prasarana untuk pembelajaran. ”Kebetulan kelurahan Kenep juga sudah punya predikat sebagai desa wisata kreatif, sehingga kami turut serta mengenalkan salah satu potensi lokal kebanggaan kabupaten Sukoharjo,” ujarnya.

Lebih lanjut Eni Kasiyanti menjelaskan bahwa pada kegiatan tersebut, siswa dikenalkan berbagai macam jenis batik yang diproduksi serta cara pembuatan batik dari awal sampai akhir. “Seluruh siswa diajak praktik langsung membuat batik secara sederhana dengan teknik ikat celup. Hasil karya siswa langsung bisa dibawa pulang,” imbuh koordinator guru kelas 1 tersebut.

Masih menurut Eni, siswa juga diajak untuk mengunjungi sentra industri kue di daerah yang sama dan memainkan sebuah permainan tradisional khas desa tersebut. “Siswa juga praktik membuat kue, mulai mencampur adonan dan memasaknya hingga matang. Semua nampak ceria dan menikmati kegiatan tersebut,” tandas Eni Kasiyanti.

Sementara itu, Kepala MIN 2 Sukoharjo, Danuri, menegaskan bahwa kegiatan outing class merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan dua kali dalam satu tahun pelajaran. Semua kegiatan outing class disesuaikan dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari saat itu. “Setiap tingkat kelas sudah memiliki program outing class dengan tujuan yang berbeda-beda, sesuai kesepakatan pihak madrasah dan paguyuban orang tua,” ujar kepala madrasah.

Selanjutnya Danuri juga menjelaskan bahwa seluruh pembiayaan outing class dikelola oleh paguyuban orang tua siswa. Pengurus paguyuban bekerja sama dengan guru dalam merancang kegiatan tersebut. “Madrasah melalui guru kelas memfasilitasi dalam administrasi perizinan kunjungan ke lokasi, sehingga antara orang tua dan madrasah saling koordinasi,” tandas Danuri di akhir penjelasannya.(Pry/Djp/bd)