MTsN Surakarta 1 Goes To Kedaulatan Rakyat

Surakarta -Tim majalah Mutiara MTsN Surakarta 1 mengadakan kunjungan ke kantor Kedaulatan Rakyat Yogyakata, Selasa (25/9). Kegiatan ini diikuti oleh 31 siswa yang tergabung dalam tim jurnalis majalah Mutiara dan 10 guru pendamping. Kegiatan ini diadakan untuk menambah wawasan tim jurnalis tentang kewartawanan dan persurat kabaran melalui pembelajaran kontekstual.

Tim majalah Mutiara yang diketuai oleh Mansyur tiba di lokasi Kedaulatan Rakyat pukul 09.00 dan diterima oleh ibu Suciyanti (Public Relation) dan pak Wisnu (wartawan senior). Beliau berdua menginformasikan koran Kedaulatan Rakyat kepada tim, dari sejarah sampai pencetakannya.

“Koran Kedaulatan Rakyat ini pertama kali terbit pada tanggal 27 September 1945, pendirinya  adalah H.M. Gun Samawi dan H. Madikin Wonohito. Pencetakan Koran dilakukan pada malam hari, kemudian pagi harinya digunakan untuk meliput berita atau melakukan rapat menentukan headline berita. Seorang wartawan tidak mempunyai jam kerja yang teratur, melainkan menyesuaikan deadline berita,” tutur Suci.

Saat sesi tanya jawab, banyak pertanyaan yang diajukan oleh guru pendamping dan tim majalah Mutiara MTsN 1 Surakarta. Mereka antusias menggali lebih jauh informasi terkait koran Kedaulatan Rakyat.

Kegiatan berlanjut dengan melihat secara langsung ruang cetak koran dipandu wakil kepala bagian percetakan, Budiyono. Dia menjelaskan proses produksi koran hingga pemasaran. 

“Langkah pertama pencarian berita, dilanjutkan pengetikan sekaligus correcting yaitu mengoreksi isi berita, berikutnya adalah layouting kemudian filming plat, yaitu mencetak berita di atas lembaran aluminium. Selanjutnya adalah proses percetakan menggunakan kertas aspex, yaitu kertas khusus koran, dilanjutkan pemasaran dan distribusi ke berbagai daerah,” papar Budiyono.

Untuk saat ini koran Kedaulatan Rakyat biasanya dapat mencetak 100.000 eksemplar per harinya.

“Biaya produksi per hari kurang lebih 500 juta, namun, biaya produksi tersebut tidak dapat ditutup oleh penjualan namun iklanlah yang mampu menutupnya,” kata Budiyono. (bud_rma/bd)