MUI Sragen Ekspose Penelitian Tentang Gunung Kemukus

Sragen – Gunung Kemukus adalah salah satu obyek wisata yang berada di Desa Pendem Kecamatan Sumberlawang Kabupaten Sragen. Obyek wisata ini begitu terkenal dan menarik untuk diteliti. Demikian juga pihak MUI Kabupaten Sragen tertantang untuk melakukan penelitian. Hal tersebut terbukti dengan kegiatan pemaparan hasil penelitian Gunung Kemukus oleh MUI Kabupaten Sragen di Aula Kankemenag Sragen, Senin (27/11).

Acara tersebut didukung penuh Kankemenag dan dihadiri  Kodim, Polres, Kesbangpolinmas, Dinas Pariwisata, Ormas Islam, Pokjaluh, Kepala KUA, Camat, Kepala Sekolah dan Kepala Desa yang terdampak keberdaan Gunung Kemukus yakni Miri dan Sumberlawang.

Dalam sambutannya Kepala Kankemenag Sragen, H. Ahmad Nasirin menyampaikan apresiasi kinerja MUI dalam menjawab kebutuhan umat, dan menyampaikan pula bahwa Kemenag Sragen telah berupaya untuk mengubah stigma negatif Gunug Kemukus.

“Terimakasih kepada MUI yang telah melakukan penelitian tentang Gunung Kemukus, semoga bermanfaat untuk semua,” harap Kakankemenag.

Kemenag Kab. Sragen sudah melakukan upaya pembinaan bagi warga di sekitar Gunung Kemukus melalui penyuluh agama. Hal ini sebagia bentuk implementasi dari salah satu visi Kementerian Agama, yaitu meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama.

“Kami juga telah melakukan upaya demi kebaikan warga Gunung Kemukus, diantaranya melakukan bakti sosial dan pengajian akbar dan sampai sekarang melalui penyuluh agama secara rutin mengadakan pengajian kepada warga sekitar,” tambahnya.

Selanjutnya pada acara ekspose tersebut, ketua peneliti yang juga ketua komisi kajian MUI Kab. Sragen, Nursalim menyampaikan hasil penelitiannya bahwa ritual di Gunung Kemukus itu penuh dengan mitos dan khurafat (ajaran sesat atau keyakinan yang tidak memiliki landasan kebenaran).

“Makam Pangeran Samodro yang disebut-sebut merupakan anak raja majapahit terakhir yaitu prabu Brawijaya itu hanya mitos sebab dari hasil kajiannya, sang raja punya anak 117 tapi tidak ada nama pangeran samodro,” ujar Nursalim.

“Demikian pula yang disebut sebut pendiri kesultanan Demak juga hanya mitos, sebab dalam kitab Babad Demak dan Babad Pesisir tidak ada nama pangeran Samodro, begitupun ajaran tentang hubungan seks setelah ziarah hanyalah mitos,” tandasnya.

Akibat dari mitos yang beredar, dampaknya luar biasa, menjadikan masyarakat berbuat syirik dan maksiat, merusak tatanan keluarga dan bisa menjadi sebab penyebaran penyakit AIDS. Berkenaan itu MUI memberikanrekomendasi untuk mengalihfungsikan Gunung Kemukus dari wisata religi menjadi obyek wisata destinasi permainan dan pendidikan.

“Kami yakin bahwa Gunung Kemukus itu tidak tepat sebagai wisata religi, kami rekomendasikan tempat tersebut menjadi destinasi permainan dan wisata edukasi,” kata Nursalim.

Lebih lanjut, Nursalim mengharapkan kepada warga yang selama ini bekerja di Gunung Kemukus untuk dapat difasilitasi bekerja di destinasi baru tersebut. (dewi/ira1/Wul)