Musta’in Ahmad : Masjid Harus Bisa Rekatkan Persatuan Dan Makmurkan Umat

Surakarta – “(Untuk) Masjid ini, Saya memberikan apresiasi khusus karena tertib administrasi (dan) tertib kepengurusan. Mungkin banyak juga masjid yang begitu tapi jumlahnya lebih banyak yang tidak. Yang tertib itu banyak tetapi yang tidak tertib lebih banyak. Nah, Ini harus kita jadikan contoh”.

Demikian disampaikan Musta’in Ahmad, selaku Kepala Kantor Kemenag Kota Surakarta, di ruang kerjanya, Selasa (19/2) kemarin, usai serah terima pengurus baru Masjid Baiturrahmah, Mojosongo, Jebres, Surakarta, sehari sebelumnya.

Mengingat, Masjid yang didirikan oleh YAMP (Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila) dan diresmikan pada 1988 tersebut perkembangannya semakin baik dan semarak, maka pada saat serah terima SK kepengurusan itu dimanfaatkan jamaah untuk memberi beberapa masukan.

Diantaranya, keluhan pengurus terhadap fasilitas toilet di Taman Bermain yang berada didepan masjid yang kurang berfungsi serta bunyi Sound sistem ketika mengumumkan jam wajib belajar anak diwaktu ritual ibadah sholat magrib masih berlangsung, misalnya wiridan, taklim dan sebagainya.

“Nah ini yang akan kita komunikasikan dengan dinas lingkungan hidup atau (dengan dinas) yang menangani,” janjinya.

Musta'in berpesan untuk tiga hal yang harus dijaga.

Pertama terkait dengan fungsi masjid, meminjam istilah Menteri Agama, maka diperlukan penguatan tiga matra; idaroh (kegiatannya berkembang sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh jamaah). Kemudian  Imaroh  (berkaitan dengan memakmurkan masjid sebagai tempat ibadah, pembinaan umat dan peningkatan kesejahteraan jama’ah), dan  Ri’ayah , (meliputi pemeliharaan bangunan, keindahan, dan kebersihan masjid).

Kedua,  Kita ingin masjid ini menjadi bagian yang merekatkan persatuan dan memakmurkan umat. Hingga terlontar gagasan Saya, “Kas masjid itu jangan terlalu besar. Kas masjid itu secukupnya saja, yang lain digunakan untuk kegiatan-kegiatan pemberdayaan jamaahnya,” papar Musta’in.

Ketiga, Di tahun politik, Musta’in mengimbau agar masjid menghindar dari hiruk pikuk politik praktis.  Jamaah jangan sampai ikut-ikutan berkicau yang tidak baik, termasuk ujaran-ujaran kebencian dan sebagainya. 

“Justru tanggungjawabnya tokoh-tokoh umat beragama adalah menarik mereka-mereka yang terlanjur agak berlebihan dalam hal persaingan itu kembali lagi kedalam semangat persatuan (dan) semangat ukhuwah,” tegasnya. (abdus-rma/bd)