Musta’in : Pengurus Masjid Harus Jaga Kewibawaan Masjid

Surakarta – Mendekati Pemilu tanggal 17 mendatang, eskalasi politik yang cenderung meningkat dan mengarah ke berbagai lembaga di antaranya pada beberapa tempat peribadatan seperti masjid dan musholla di wilayah Kota Surakarta. Hal tersebut diantisipasi dengan apik oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Surakarta, Syamsudin, yang langsung berkomunikasi dengan Kepala Kementerian Agama Kota Surakarta, Musta’in Ahmad.

“Karena tarik-menarik magnet politik sekarang ini bisa menarik semua elemen dari semua unsur,  termasuk tokoh-tokoh agama, takmir masjid, khotib dan sebagainya, biar semuanya aman dan kita tidak bermasalah dengan bagaimana kita berdakwah dalam iklim sekarang  memasuki detik-detik  dalam pemilu 2019, maka lembaga terkait Bawaslu perlu hadir”.

Demikian disampaikan Musta’in Ahmad, Kepala Kemenag Kota Surakarta pada acara Silaturrahmi Ta’mir Masjid se – Kota Surakarta dengan tema Dari Masjid Untuk  Solo Yang Sejuk Dan Damai, di Masjid Agung Kota Surakarta, Sabtu   (6/4).

Acara yang dihadiri hampir 700 Ketua Takmir Masjid se-Kota Surakarta, menampilkan tiga narasumber, selain Musta’in Ahmad, Ketua MUI Kota Surakarta H Subari, dan Ketua Bawaslu Kota Surakarta Budi Wahyono.

Musta’in mengajak agar kita memiliki kekuatan dan kemampuan seperti para pendahulu-pendahulu kita bisa bersikap dengan bijak dan jernih jika ada yang mengolok-olok.

”Konon, dahulu, para pembawa da’i itu mengislamkan orang yang belum islam. Lha, sekarang ini yang sudah islam itu gampang-gampang  sekali dikafir-kafirkan. Mudah-mudahan kita tidak termasuk yang demikian itu,” terang Musta’in.

Untuk itu, Musta’in mengingatkan para takmir dan tokoh-tokoh pengelola masjid mampu menerapkan tiga hal mendasar yang menyangkut idaroh (tertib administrasi masjid), imaroh (meramaikan masjid dengan beribadah) dan riayah (menjaga kehormatan/kewibawaan masjid). Karena, menurut Musta’in, wajah agama di lingkungan kita itu akan nampak dari wajah para khotib, mubaligh, dai, para pengampu majelis-majelis taklim dan ulama’ yang menyampaikan khutbah di masjid-masjid tersebut.

Pada kesempatan itu, Musta’in juga menyampaikan terimakasih kepada para tokoh agama di Kota  Solo yang sampai hari ini meskipun kepentingan tarikmenarik luar biasa terutama tarik-menarik kepentingan politik luar biasa Solo tetap dalam kondisi sejuk.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Surakarta, H Subari memaparkan pengalamannya ketika berdakwah di Kota Solo menyangkut kebiasaan orang Solo yang masih suka melakukan ritual sedekah bumi, dengan pendekatan hikmah dan tutur kata yang baik.

Sedang Ketua Bawaslu Surakarta Budi Wahyono menerangkan tentang apa yang dimaksud kampanye di masjid. Bahwa sesuai UU no 7 tahun 2017, kata Budi, yang dimaksud kampanye itu adalah kegiatan peserta pemilu atau pihak lain yang ditunjuk oleh peserta pemilu untuk meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi,misi, program kerja, dan atau citra diri

 “Jadi kalau misalnya ada kegiatan pemilu di Masjid ,belum tentu itu kampanye. Tapi, ketika kemudian ada calon, ada caleg , ada tim sukses, ada tim kampanye yang kemudian bagi-bagi bahan kampanye di situ, entah itu wujudnya stiker, poster yang kemudian untuk mengajak, itu sudah kampanye,” terang Budi.

 “Tapi kalau misalnya bapak-bapak di masjid mengumumkan  gunakan hak pilih panjenengan pada tanggal 17 april dengan baik, itu bukan kampanye. Itu boleh,” imbuh Budi.

Acara ditutup dengan “Deklarasi Damai” bersama para pengurus masjid, tokoh agama, dan ketiga narasumber. (Abdus-rma/bd)