Nadia lolos tes Sampoerna Academy Boarding High School Bogor

Rembang — Raut haru tersirat dari wajah Khintsiya Nadiatul Ilmi (15), siswi MTsN Sale yang baru saja diwisuda. Nadia, begitu sapaannya, berhasil lolos tes masuk Sampoerna Academy Boarding High School yang diselenggarakan oleh Putra Sampoerna Foundation beberapa waktu lalu.

Hal tersebut merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi MTsN Sale. Karena sebelumnya, sebanyak 150 peserta dari beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur mengikuti tes untuk memperebutkan penerimaan siswa yang hanya berkuota tiga siswa untuk daerah Rembang.

Sekolah yang ditawarkan juga menggiurkan, yaitu SMA Sampoerna Bogor, merupakan SMA yang sudah bertaraf internasional. Hal ini tak lain karena selain menerapkan kurikulum nasional, sekolah di bawah Yayasan Putra Sampoerna Foundation ini juga memberlakukan kurikulum internasional dengan standar pendidikan Amerika Serikat. Percapakan sehari-haripun diwajibkan berbahasa Inggris, sehingga lulusan akan mampu bersaing di dunia kerja internasional.

Kepala MTsN Sale, Masrum mengatakan, pihaknya telah mengikutkan sembilan siswa untuk mengikuti tes tersebut. Namun hanya Nadia yang lolos. Kendati demikian, hal tersebut sudah sangat membanggakan. Karena banyak siswa-siswi madrasah-madrasah lainnya yang mengikuti tes masuk, namun belum berhasil lolos.

Beliau berharap, Nadia akan sukses bersama-sama siswa-siswi lainnya dan bisa mengangkat derajat SDM Rembang. Bersama tiga rekannya, yaitu Friska Alive Diana sari dari SMPN 1 Lasem, Rembang, dan Eni Listyani dari SMPN 1 Kaliori akan memulai berjibaku dengan Bahasa Inggris pada tahun ajaran baru, 27 Juli mendatang.

“Saya berharap Nadia bisa menuntaskan pendidikan di SMASampoerna ini dengan hasil yang membanggakan, bahkan bisa meneruskan hingga ke perguruan tinggi. Setelah itu bisa memperoleh kerja yang layak dengan standar internasional agar bisa bermanfaat bagi masyarakat, utamanya keluarga,” ujar Masrum.

Nadia sendiri telah mempersiapkan mentalnya dengan sungguh-sungguh. Melanjutkan di sekolah dengan standar internasional merupakan suatu tantangan tersendiri yang merupakan jembatan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi wanita yang sukses. “Dan yang terpenting adalah ridlo kedua orang tua saya,” ujarnya.—Shofatus Shodiqoh