Noor Badi : Tasamuh Dan Toleransi Dalam Bingkai Kebhinekaan

Kudus –┬áDalam upaya penguatan toleransi dan kerukunan antar umat beragama perlu kiranya ada strategi penguatan demi terwujudnya suasana yang kondusif khususnya di wilayah Kabupaten Kudus ini.

Hal ini diimplemantasikan oleh Kemenag Kudus dengan menyelenggarakan dialog lintas agama dengan berbagai kalangan dan profesi pada hari rabu, tanggal 27 September 2017 di warung jaglo sawah gebog Kudus.

Dialog lintas agama dihadiri oleh anggota FKUB, perwakilan lintas agama, tokoh masyarakat yang ada di Kecamatan Gebog Kudus.

Dalam dialog tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus dilanjutkan dengan pemaparan oleh 3 nara sumber yaitu Drs Noor Badi, MM, selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus dan dari unsur FKUB Kudus yaitu Prof Dr H. Muslim Abdul Kadir dan Dr. Noor Muslikhan.

Noor Badi dalam sambutan arahannya sekaligus membuka acara dialog mengatakan bahwa Kementerian Agama mengemban tugas dan amanah Negara dalam menyelenggarakn tugas umum di bidang agama sehingga perlu adanya penguatan sikap toleransi saling berdampingan antar umat beragama.

Dengan melihat fenomena yang terjadi di luar negeri yang dapat kita akses dari berbagai media saat ini, terbukti bahwa isu SARA sangat dominan dalam memecah belah suatu bangsa dan rakyatnya, sehingga mengaca dari pengalaman tersebut perlu kiranya stategi penguatan melalui 7 langkah.

Tujuh langkah yang merupakan strategi penguatan tersebut adalah 1. peningkatan ajaran agama sehingga kualitas pengamalan agama menjadi baik,2. kualitas pelayanan kehidupan beragama,3. kualitas kerukunan antar umat beragama,4.ibadah haji,5.penguatan asset asset umat beragama,6. kualitas pemerataan akses pendidikan baik secara formal, informal maupun non formal dan yang terakhir penguatan kerukunan pemeluk agama.

Sehingga harapannya, Kemenag dapat membangun sikap tasamuh dalam bingkai Kebhinekaan dan dibarengi dengan sikap toleransi antar sesama umat beragama sehingga masyarakat Kudus yang terkenal dengan religiusnya dapat menjadi contoh masyarakat yang taat agama dan masing masing pemeluk agama patuh, cerdas, mandiri dalam naungan NKRI dengan suasana penguatan kerukunan dan kegotong royongan.Karena pada intinya NKRI Harga Mati.

Sedangkan paparan dari 2 nara sumber lainnya yang pada intinya berisi tentang membangun kesadaran dan kerukunan umat beragama sangatlah penting, dan perbedaan yang ada dalam masyarakat Indonesia ini kita ikat dengan satu KEBHINEKAAN.

Sehingga setiap pemeluk agama dapat menjalankan ibadahnya sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing dengan berdasar pada KETUHANAN YANG MAHA ESA.(Eti/bd)