Paikem Gembrot Meriahkan Lomba Micro Teaching

Purbalingga –  Proses pembelajaran pada jenjang usia dini dapat diibaratkan peletakan pondasi pada sebuah bangunan. Sehingga dibutuhkan suasana kelas yang ceria dan kondusif agar peserta didik merasa tertarik dan konsentrasi dalam belajar. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan menerapkan metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, inovatif, kreatif, menyenangkan, menggembirakan, namun tetap berbobot. Beberapa kalangan membuat akronim metode pembelajaran ini dengan nama Paikem Gembrot.

Penggunaan metode ini terbukti mampu membuat Aula Lantai II Kankemenag Kabupaten Purbalingga seperti sebuah ruang kelas Taman Kanak-kanak yang menarik untuk tempat belajar. Suasana Lomba Micro Teaching Guru RA/BA/TA Kabupaten Purbalingga yang digelar Pimpinan Daerah IGRA, Rabu (24/10) dan diikuti 18 tim tersebut semakin meriah dengan gelak tawa para pejabat, dewan juri maupun guru-guru yang menonton.

Kasi Pendidikan Madrasah, Sudiono disela-sela keceriaannya menyaksikan lomba mengungkapkan apresiasi dan terima kasihnya kepada IGRA Purbalingga yang berani melakukan inovasi dalam beberapa kegiatan menyongsong HUT IGRA ke-16 tahun ini.

“Selamat, semoga tetap eksis serta bisa berkiprah di lingkungannya, baik di masyarakat, di madrasah maupun di RA/BA/TA masing-masing. Dengan harapan IGRA mampu mewarnai dan menjadi idola di hati masyarakat. Terima kasih telah menyelenggarakan lomba di kantor kami, sehingga kami berkesempatan secara langsung mendapatkan gambaran bahwa guru-guru kita memiliki kompetensi dan profesionalitas yang layak diekspose,” ucapnya.

Salah satu Juri yang juga Pengawas RA/BA-MI, Budi Bowo Leksono saat dihubungi mengungkapkan apresiasinya dan rasa bangganya.

“Luar biasa! Profesionalitas, totalitas, kompetensinya dalam keilmuan kependidikan, ilmu keguruannya, aplikasi ilmunya terhadap pembelajaran pada anak didik sungguh luar biasa! Perlu diacungi jempol. Ini kalau dikembangkan kepada semua guru akan menghasilkan anak didik yang berkualitas dari sisi kognisi, afeksi dan akhlakul karimah. Penerapan ilmunya terhadap masyarakat dan efek positifnya terasa sekali, “ tuturnya bangga.

“Mengenai penggunaan alat peraga ada plus minus. Ada yang cukup, ada yang kurang dan hal tersebut wajar. Tetapi secara keseluruhan sangat bagus,” tambahnya.

Dengan durasi 15 menit, tiap tim yang terdiri dari 7 orang harus mampu bekerja sama. Seorang berperan sebagai guru dan enam lainnya sebagai siswa dengan segala polah tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Tak jarang di tengah-tengah pembelajaran terlihat sebagian “siswa” merajuk, menangis, pura-pura mengompol dan bermain sendiri. Guru pun terlihat dengan sabar mengendalikan mereka untuk  kembali fokus kepada kegiatan pembelajaran.

Berhasil meraih Peringkat 1 Tim IGRA Kecamatan Kejobong. Sedangkan peringkat kedua hingga keenam adalah Tim IGRA Kecamatan Bojongsari, Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Karangmoncol, Kecamatan Bukateja dan IGRA Kecamatan Purbalingga. (sar/gt)