Para Milenial Jadi Agen Moderasi Beragama

Semarang (Humas) – Talkshow Live Streaming Inspirasi Moderasi Beragama yang diprakarsai oleh Kanwil Kemenag Prov. Jateng melalui Bidang Organisasi Tata Laksana dan Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang juga berlangsung secara luring di Hotel Candi Indah, Semarang pada Kamis pagi (11/11).

Selaras dengan tema yang diusung yakni “Pemuda sebagai Agen Moderasi Beragama”, Pdt. Setyawan Budi Wahyono selaku Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Jawa Tengah mengungkapkan bahwasanya moderasi beragama adalah tugas seluruh umat beragama termasuk juga para pemuda.

“Menggaungkan moderasi beragama tidak hanya menjadi tugas Kementerian Agama saja namun merupakan tugas seluruh umat beragama. Kita semua harus bisa menjadi agen Moderasi Bergama. Sebab bagaimana kemoderatan dapat berjalan bisa istilah “moderasi beragama” masih asing ditelinga masyarakat. Mari kita sampaikan dengan bahasa-bahasa yang mudah dipahami,” tutur lelaki yang akrab dipanggil dengan sebutan Pendeta Wawan.

“Kita dapat sampaikan moderasi beragama dengan pendekatan media sosial seperti menyuguhkan infografis yang mampu menjelaskan secara gamblang mengenai kemoderatan, sebab seperti yang kita ketahui pemuda milenial saat ini erat dengan perkembangan teknologi” pungkasnya.

Menurut Pendeta Wawan ada 3 poin penting yang harus dilakukan oleh seluruh umat khususnya para milenial supaya dapat menjadi Agen Moderasi Beragama yakni:

  1. Tidak perlu alergi dengan budaya luar namun harus tetap selektif. Ambil sisi positifnya lalu kembangkan selaras dengan kebudayaan asli Indonesia.
  2. Lakukan aksi kemoderatan dengan Nirkekerasan, yang berarti Agen Moderasi Beragama tidak melakukan kekerasan dan pemaksaan. Menjadi fanatik dengan agamanya masing-masing sangatlah dianjurkan, namun jangan sampai memaksakan keyanikan yang diyaniki kepada orang lain.
  3. Saring sebelum sharing, yang berarti para milenial harus memiliki kendali dalam bermediasosial. Dengan adanya banjir informasi para milenial harus mampu memilah informasi dengan bijak dan selaras dengan keagamaan dan budaya Indonesia.

“Mari bergaul dan bermediasosial dengan bijak. Bijak memilah dan memilih mana saja informasi yang benar dan selaras dengan keyakinan, ajaran serta nilai-nilai kebajikan yang tumbuh di nuasantara Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pesan Pendeta Wawan. (pqq)