Paskah hadirkan suasana damai dan semangat suka cita di bumi wonogiri

Wonogiri – Kegiatan visualisasi kisah sengsara Yesus, Jumat (3/4), digelar di lereng puncak Gunung Gandul Wonogiri yang ikuti oleh ribuan umat Katolik yang berjalan dengan hikmat dan syahdu, kegiatan ritual tersebut rangkaian dari kegiatan paska 2015 dan di liput media lokal dan nasional itu, acara juga menarik perhatian masyarakat yang di lewati.

Gara Katolik Kankemenag Wonogiri Drs. YB. Heru Kristomo menyampaikan bahwa melalui perayaan Paskah tahun ini di harapkan seluruh umat kristiani bersama-sama bisa mewujudkan damai sejahtera dengan melakukan hal-hal sebagai berikut : menciptakan ketenangan, kedamaian, dan kerukunan ditengah-tengah keluarga, masyarakat, gereja dan Negara. Memerangi kemiskinan, ketidakadilan, dan kekerasan melalui Bahasa agama. Belajar untuk memahami orang lain dan mengampuni kesalahan orang lain. Memperlihatkan hidup sederhana, kerja keras dan saling berbagi kepada orang yang membutuhkannya. Memberikan sumbangan pemikiran dalam membangun bangsa dan Negara serta membawa damai ditengah-tengah masyarakat yang sedang mengalami konflik, permusuhan, kekecewaan, ketakutan, kecemasan dan kekawatiran hidup.

Heru menambahkan sesuai dengan tema paskah tahun ini “iman di sertai perbuatan kasih menjadi semakin hidup” maka perayaan Paskah umat kristiani di kota gaplek mengandung makna tersendiri bagi kehidupan manusia, karena Yesus Kristus telah menebus dosa manusia dari belenggu dosa. Kita bersyukur masih diberi kesempatan dengan merenungkan kembali peristiwa paskah dalam suasana damai dan suka cita.

Perdamaian selalu didambakan oleh umat manusia, sejak awal Allah menghendaki agar manusia hidup dengan kedamaian dan keadilan, tetapi perdamaian tidak akan pernah terbina apabila manusia selalu mementingkan diri sendiri, dan tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya dari keserakahan. Perdamaian juga tidak akan terwujud apabila masalah kemiskinan dan tidak dapat diatasi.

“Perdamaian hakekatnya sangat erat kaitannya dengan keadilan dan perdamaian juga erat kaitannya dengan kesejahteraan, perdamaian tidak akan pernah tercipta jika kesejahteraan setiap manusia tidak terpenuhi. Kerelaan dan kesungguhan untuk saling mengasihi dan saling berbagi merupakan wujud perdamaian. Perdamaian akan terwujud bila persaudaraan, cinta kasih dan keadilan tetap terjaga”, imbuhnya.

Menurut Yulianingsih Setyaningsih, M.Pd (pengawas pendidikan agama katolik) yang mendampingi ritual tersebut menyampaikan bahwa umat Katolik mengawali rangkaian paskah dari minggu palma di mana Yesus masuk ke kota Yerusalem sebagai raja penyelamat dunia, umat Katolik memasuki tri hari suci (kamis putih, jum’at agung, vigili paskah, dan puncaknya adalah paskah) kamis putih yang merupakan perjamuan terakhir yang dilakukan oleh Yesus bersama murid-muridNya sebelum Dia diserahkan kepada imam-imam kepala untuk di adili setelah ekaristi kamis putih prosesi masih di lanjutkan dengan teguran di depan sakramen maha kudus, esuk paginya umat katolik mengadakan jalan salib di mana umat di ajak merenungkan kisa sengsara yesus sampai pada penyalibanNya, pada pukul 15.00 sore umat katolik seluruh dunia mengadakan ibadat jum’at agung, rangkaian paskah masih di lanjutkan dengan ekaristi vigili paskah (tirakatan malam kebangkitan Tuhan) dan pada akhirnya berpuncak pada ekaristi paskah pada hari minggu.

Paskah senantiasa menghadirkan suasana damai dan semangat suka cita bagi seluruh umat manusia yang telah ditebus oleh kuasa kebangkitan-Nya. Dalam sejarah umat manusia peristiwa paskah memberikan pengharapan ditengah-tengah berbagai persoalan hidup, kekuatiran, kecemasan, kebencian dan ketakutan Umat Kristiani dituntut mengambil bagian dan turut aktif dalam upaya-upaya mensejahterakan bangsa. (Mursyid__Heri P)