Pelatihan Vertikultura Dukung Program Adiwiyata

Surakarta – Sistem penanaman vertikultura akhir-akhir ini semakin populer. Karena dengan diterapkannya sistem penanaman tersebut, siapa saja punya kesempatan untuk memanfaatkan lahan yang sempit. Apalagi bagi warga yang tinggal di kota besar, lahan untuk bercocok tanam semakin sulit dan seandainya ada ketersediaan lahanpun terbatas. Maka sistem vertikultura menjadi alternatif untuk tetap dapat memanfaatkan lahan yang minim sebagaimana telah dicontohkan sebuah kantor BUMN yang terletak di jantung Kota Solo, maupun lembaga-lembaga pendidikan seperti MTsN Surakarta 1.

Melalui Daryanti dan Tyas Sumarah, Dosen Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta itu mengadakan pelatihan  bertanam secara Vertikultura di MTsN Surakarta 1. Pelatihan yang diikuti oleh perwakilan siswa kelas 7 dan 8 tersebut berlangsung di Ruang Multimedia pada Kamis (14/3).

Tujuan penyelenggaraan kegiatan ini selain mendukung program sekolah adiwiyata juga mengenalkan teknik bertanam vertikultura pada siswa.

Daryanti mengungkapkan bahwa  vertikultura adalah cara bertanam secara vertikal atau ke atas. Tanaman ditempatkan dalam wadah tanam yang disusun secara bertingkat.

“Teknik ini tidak memerlukan lahan yang luas. Bahkan, rumah yang tidak punya pekarangan sekalipun bisa menerapkan teknik ini,“ ujarnya.

Selain memberikan materi, Daryanti yang dibantu beberapa mahasiswa juga membimbing siswa praktik menanam secara vertikultura serta mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam pelatihan, mulai dari menyiapkan media hingga bibit sayur sawi.

“Karena madrasah menerapkan program adiwiyata, maka pot dibuat dari botol plastik yang dimodifikasi menjadi pot. Selain menanam sayuran di botol plastik, siswa juga menanam sayuran sawi di polybag,“ tuturnya di sela-sela praktik.

Tyas Soemarah yang juga merupakan dosen UTP menjelaskan keunggulan penggunaan pot polybag yang sudah diterapkan di pelatihan ini. Pelatihan ini, menurut Tyas, dapat menumbuhkan kepedulian siswa pada lingkungan.

“Dengan kita rajin menanam pohon, kita dapat mengurangi global warming. Pohon yang kita tanam akan menghasilkan oksigen yang akan mengurangi pemanasan suhu di bumi ini,“ jelasnya.

Oleh karena itu, Tyas berharap agar kepedulian siswa pada lingkungan harus dipupuk terus-menerus sehingga kedepannya diharapkan menjadi pelopor di lingkungannya. Anak-anak mengikuti pelatihan ini dengan antusias. Mereka bersemangat dalam mengikuti dan memperhatikan petunjuk yang diberikan para pembimbing.

“Tidak ada yang sulit kalau dipraktikkan. Kegiatan ini sangat menarik, ini nanti akan saya praktikkan di rumah,“ papar  Hazna, siswa kelas 8D.

“Banyak keuntungan yang diperoleh dengan sistem tanam vertikultura ini, seperti bisa dipindah-pindah, pemeliharaannya mudah, menambah  nilai estetika di lingkungan sekitar, dan yang paling penting kita dapat memanfaatkan barang-barang bekas (botol, ember, dan ban bekas),”imbuhnya.

Semoga melalui pelatihan vertikultura ini MTsN Surakarta 1 dapat menuju madrasah Adiwiyata tingkat nasional dan para peserta pelatihanpun mampu mempraktikkan apa yang telah diperoleh untuk menjadi kader penyelamat di lingkungannya masing-masing. (diana-rma/bd)