Pembelajaran Literasi, Ciptakan Komikus-Komikus Siswa

Banjarnegara – Pembelajaran literasi di MTs Ma’arif Mandiraja, ternyata menghasilkan komikus-komikus muda/cilik dari siswa. Tak ayal, walaupun program baru setahun berjalan, mereka telah menerbitkan 5 komik pembelajaran.

Ide pembuatan komik bermula dari seorang siswa bernama Ristiana. Dalam pembelajaran literasi Al Quran Hadist yang diampu Ibu Khuliyatul Mukaromah, Ristiana menuangkan materi pelajaran ke dalam sebuah gambar seri.

Melihat gambar seri dalam pelajaran Al Quran Hadist, Ibu Barokah dan Ibu Khuliyah yang telah mengikuti pelatihan literasi dalam Good Practices School USAID PRIORITAS berinisiatif untuk mewadahi. “Saya kemudian menemui fasililitator daerah dan koordinator kabupaten, sampai akhirnya di difasilitasi mengundang  Ismail Kribo, komikus yang mengisi kolom komik Kompas untuk melatih siswa-siswa kami,” cerita Kepala MTs, Ibu Barokah.

Setelah didampingi oleh seorang komikus, siswa sudah mulai terarah sehingga semua yang berkaitan dengan komik merupakan ide kreatif siswa. Semua tampilan gambar, cerita, dan tata letak dikerjakan oleh siswa sehingga sangat khas karya siswa. Guru cukup mendampingi dan memberi bimbingan jika dibutuhkan.

Komik terbitan pertama tentang kehidupan sehari-hari dicetak dalam jumlah banyak, bahkan orang tua siswa juga ikut membaca komik buatan anak-anaknya.

Edisi berikutnya adalah komik berjudul ‘Kereta Jawa’. Materinya berkaitan dengan materi pelajaran Al Qur’an Hadist, yang berarti keranda mayit. Dalam komik yang kedua tersebut ceritanya sudah mengkaitkan dengan materi pelajaran, sehingga komik itu bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Mata pelajaran yang menggunakan komik itu adalah keterampilan agama. Literasi dikembangkan menjadi keterampilan hukum agama.

Komik yang ketiga kemudian diterbitkan dengan isi cerita dalam komik lebih komplek dan bervariasi lagi sehingga mata pelajaran lain bisa menggunakan komik ini.  Dalam pelajaran dan di luar pembelajaran, guru membimbing siswa untuk memahami materi hukum jenazah dan menuangkan pemahaman ke dalam komik sesuai gaya siswa. Teknik ini juga dilakukan untuk mapel bahasa Inggris, sains dan IPS yang telah dikembangkan.

Kehadiran komik membuat bangga orang tua siswa. Komite sekolah membantu merekomendasikan percetakan dengan harga murah hingga dapat memperbanyak oplah cetak. (Nurjannah/Nangim/gt)