Pendidikan Karakter Solusi Atasi Perilaku Amoral Remaja

Purbalingga – Pendidikan pada dasarnya adalah upaya memperbaiki moral.  Hal tersebut sejalan dengan tujuan Allah mengutus Rasul-Nya di muka bumi ini yakni untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Bojongsari dan Mrebet, Yuyu Yuniawati dalam komunikasinya dengan Humas Kankemenag, Kamis (13/12).

Menurutnya hal tersebut juga sejalan dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, yang menyatakan, tujuan pendidikan adalah agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri,  kepribadian,  kecerdasan,  akhlak mulia,  serta keterampilan yang diperlukan dirinya,  masyarakat,  bangsa dan negara.

Selain itu, dalam komunikasinya ia menjelaskan,  bersama narasumber dari Tim Harapan Purbalingga, Trijuniati Sribawa, S.H. dalam seminar yang digelar 24 Nopember 2018 lalu ia telah memaparkan keprihatinan dan kekhawatiran yang sangat mendalam dengan banyaknya kasus amoral yang menimpa para remaja di Purbalingga.

“Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Purbalingga, bekerja sama dengan Kantor Kesbangpol  Purbalingga telah menggelar “Seminar Pendidikan Karakter Bagi Remaja” di Aula Kelurahan Kembaran Kulon Kecamatan Purbalingga. Kegiatan tersebut diikuti 75 peserta perwakilan dari semua organisasi wanita yang ada di Kabupaten Purbalingga,” ungkapnya.

Menurutnya saat ini berbagai bentuk kasus amoral yang menimpa para remaja begitu maraknya.  Seperti penyalahgunaan narkoba, minuman keras,  tawuran antar pelajar,  pergaulan bebas (free sex),  pernikahan dini dan lain-lain. 

“Melihat kenyataan ini,  sejatinya semua pihak, baik keluarga,  sekolah,  masyarakat dan pemerintah berperan penting dalam menangkal dekadensi moral remaja. Peran ini penting dalam upaya menyiapkan generasi muda yang berkarakter,” tambahnya. 

Akil dan Baligh Berbeda

Pendidikan karakter merupakan solusi untuk menjawab berbagai permasalahan moral anak bangsa, khususnya para remaja yang sedang mengalami masa transisi dan masa pubertas (akil baligh). Karena faktanya tidak semua remaja yang sudah baligh juga sudah mencapai akil.  Padahal “akil baligh” adalah dua kondisi yang harus berjalan beriringan. Saat seorang telah mencapai “Baligh” (kedewasaan fisik), idealnya juga sudah mencapai “Akil” yang ditandai dengan kedewasaan mental, mampu membedakan benar dan salah,  baik dan buruk, faham kewajiban,  perintah dan larangan.

Ketika ada remaja yang sudah baligh namun belum akil, akan muncul berbagai kasus moral sebagaimana yang banyak terjadi saat ini.  Maka menjadi sebuah keharusan bagi semua pihak untuk bahu membahu memberikan perhatian, pembinaan dan pendidikan karakter secara intensif bagi mereka. Karena nasib bangsa ke depan ada di tangan mereka.

Lebih lanjut Yuyu menyampaikan, setiap anak terlahir dalam keadaan suci. Lingkungan di sekitarnyalah yang akan memberi corak warna terhadap nilai hidup seorang anak. Di sinilah pentingnya keteladanan dan pembiasaan dari orang-orang di sekitarnya karena seorang anak memiliki kecenderungan besar untuk meniru apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya.

Begitupun dengan pembiasaan, di mana karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar,   melalui suatu proses yang tidak instan, maka perlu adanya pembiasaan sejak dini sehingga menjadi sebuah kebiasaan (habit).

“Melalui proses pembiasaan dan keteladanan akan terbentuk pola perilaku mulia (akhlakul-karimah) yang tertanam kuat dalam jiwa. Maka,  pendidikan karakter ini menjadi sebuah kemestian. Pihak sekolah selain bertanggungjawab mencetak peserta didik yang unggul dalam iptek, juga unggul dalam iman dan taqwa,” pungkasnya. (sar/gt)