Pendidikan Pondok Pesantren menjadi Pertahanan Bangsa

Demak – Setelah Indonesia merdeka, keberadaan pesantren juga tetap menjadi salah satu basis pertahanan nasional. Dengan sistem pendidikan yang dimilikinya, pesantren menjadi benteng pertahanan terhadap serangan tradisi dan budaya yang berasal dari negara lain yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai dan etika bangsa Indonesia.

Demikianlah salah satu poin yang disampaikan oleh Brigjen TNI Iskandar M. Munir saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara Dilingkungan Pondok Pesantren  Tahun 2017 yang berlangsung di Pondok Pesantran Futuhiyah Mranggen Kabupaten Demak, Kamis (09/02).

Turut hadir Bupati Demak, Kodim 0716, Kapolres Demak, Danramil, Kakankemenag, Kajari, Kepala Pengadilan dan Aparat Kecamatan.

Iskandar M. Munir menyampaikan bahwa pondok pesantren bisa diharapkan untuk dijadikan basic pertahanan Negara, sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para santri yang berasal dari berbagai pondok pesantren yang ada di Indonesia. Pesantren telah menjadi salah satu basis pertahanan nasional sejak penjajahan kolonial.

“Berkat perjuangan para santri-santri tersebut bersama dengan elemen-elemen masyarakat lainnya, akhirnya Indonesia bisa mencapai kemerdekaan pada tahun 1945,” tegas Iskandar M. Munir yang saat ini menjabat sebagai Direktur Komponen Cadangan Ditjen Pertahaan Keamanan.

Menurutnya, sebagai salah satu basis pertahanan nasional, maka sudah seharusnya wawasan kebangsaan harus terus dikembangkan dikalangan pesantren, salah satunya melalui seminar dan dialog-dialog kebangsaan. Hal ini untuk meningkatkan pemahaman para santri tentang ke-Indonesiaan secara komprehensif. Wawasan kebangsaaan sangat penting untuk dikenal, diketahui dan diamalkan dikalangan generasi muda khususnya dilingkungan pesantren,” imbuhnya.

Apalagi saat ini, dengan semakin berkembangnya tekhnologi informasi yang membuat batas sebuah negara sudah tidak berjarak lagi, banyak generasi muda yang terlalu mudah menerima segala hal yang berasal dari luar Indonesia meski hal itu kadang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat Indonesia. Untuk itulah, keberadaan pondok pesantren yang masih kuat mempertahankan tradisi sangat dibutuhkan.

“Setidaknya, lulusan pondok pesantren bisa menjadi contoh di masyarakat bagaimana menyeleksi setiap hal-hal baru yang masuk ke Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Demak M. Nasir selaku tuan rumah berpesan bahwa Pondok Pesantren jangan lagi hanya terpaku pada pendidikan agama, tapi juga sudah menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sehingga, hampir semua pesantren modern sudah menggunakan dwi bahasa serta juga didukung oleh sistem teknologi dan informasi yang baik. Dengan demikian, santri tidak hanya mengerti soal pengetahuan agama, tapi juga dibekali dengan ilmu dunia yang berguna bagi kehidupannya pasca pesantren, pesannya dalam kesempetan membuka acara kegiatan tersebut.

Dipenghujung acara kegiatan, ditutup dengan doa oleh Kyai Kharismatik KH Muhamad Hanif Muslih, LC, yang juga selaku pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyah dalam doanya yang berisi tentang kesatuan bangsa ini. (tgh/gt)