Pengawas Madrasah, Jadilah Guru Profesional dengan 4S

Banjarnegara – Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA) kelompok VIII yang terdiri dari Kecamatan Batur, Pejawaran, Pagentan, Karangkobar, Wanayasa dan Kalibening mengadakan Rapat Koordinasi dan Pembinaan. Kegiatan dilaksanakan Selasa (09/11/2021) di Bustanul Athfal Aisyiyah 2 Batur yang dikiuti oleh semua Kepala RA/BA yang ada di wilyah Kecamatan  tersebut.

Ketua IGRA Kelompok VIII, Uswatun Aliyah dalam sambutanya mengatakan selama pandemi Covid-19 ini kita tidak bisa mengadakan pertemuan karena dilarang untuk berkumpul jadi kurang lebih sudah dua tahun baru bisa melaksanakan pertemuan seperti ini lagi sehingga nanti banyak hal yang akan dibahas dan dimusyawarahkan bersama.

Pengawas RA/MI Kecamatan Batur, Hisam hadir dan memberikan sambutan sekaligus dalam pembinaan mengatakan bahwa walaupun dimasa pandemi seorang guru harus inovatif.

“Dimasa Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) ini kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Kepala Madrasah dan guru harus bisa menciptakan inovasi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dan bijak dalam menggunakan social media dan internet,” katanya.

Kondisi PTMT ini harus dijadikan tantangan dalam meningkatkan pengetahuan dan kinerjanya, sumber daya manusia yang professional dan handal itu harus memenhuhi Empat S.

“Pertama Spirit (niat ,semngat dan cita-cita),kedua Solid (kebersamaan atau kerja sama, ketiga Speed (cepat bertindak dan tepat dan keempat Smart (cerdas dan inovatif) dan menjadi guru RA/BA adalah investasi panjang dalam pendidikan, apa yang bapak ibu guru ajarkan saat ini menjadi dasar pendidikan bagi para siswa pada masa depannya,” ucapnya

Seorang guru harus memahami karakteristik peserta didik, usia 3-6 tahun anak boleh saja dikenalkan berbagai macam pelajaran namun jangan sampai kita memaksakan dengan memberikan berbagai jenis kegiatan dan pembelajaran dengan harapan anak supaya pintar segalanya. Pembelajaran pada anak usia dini haruslah menyenangkan agar mereka tidak merasa sedang belajar, tetapi mereka tetap merasa nyaman dengan pembelajaran yang menyenangkan.

“Usia 3-6 tahun adalah masa anak bermain, mereka boleh saja belajar angka, huruf, baca dan tulis namun kita harus melihat kemampuan anak tersebut. Jangan sampai masa kanak kanaknya hilang, masa bermain dengan teman seusianya terenggut. Anak merupakan aset terbesar orang tua untuk masa depan,banyak harapan besar yang ditumpukan oleh orang tua kepada bapak ibu  semua, maka demi kemajuan anak orang tua bisa mengorbankan apa saja,” pungkasnya (hsm/ak/rf)