Pengelola Fingerpint: Bisa Ke Surga Tetapi Dekat Ke Neraka

Mungkid – Tanggung jawab sebagai Pengelola Finger print tidaklah ringan. Pengelola Fingerprint tidak saja dituntut melakukan tugasnya sesuai prosedur, tetapi diharapkan dapat memberikan edukasi bagaimana menjalankan disiplin dengan baik. Jika bisa menunaikan tugas dengan baik, maka mengelola fingerprint bisa menjadi nilai ibadah yang mendapat balasan surga, tetapi jika lalai dan mengabaikan integritas, pengelola Fingerprint bisa lebih mudah masuk ke neraka.

Hal tersebut disampaikan Ahmad Maskuri, Pranata Komputer pada Kantor Kemenag Kab. Magelang saat memberikan materi pengelolaan fingerprint kepada para Operator di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) sekecamatan Pakis di Gedung KKM MI Kecamatan Pakis, Sabtu(10/03). Hadir dalam kegiatan tersebut Pengawas Pendidikan Islam Hanafi, Kepala MIS, dan Operator Madrasah.

“Seorang pengelola Fingerprint itu bisa masuk surga tetapi dekat dengan neraka. Bisa masuk surga, jika dalam menjalankan tugas sesuai prosedur, tidak melakukan kebohongan, bahkan membahagiakan orang lain karena hasil pekerjaan kita terkait dengan finansial. Tapi jangan lupa, bisa jadi kita malah lebih dekat ke neraka,” kata Maskuri.

Ahmad Maskuri menyampaikan agar para Pengelola Fingerprint meluruskan niat, bahwa pekerjaan mengelola fingerprint adalah tugas yang tidak ringan, terkait dengan penegakan disiplin, dan finansial seperti uang makan, tunjangan kinerja, dan sertifikasi.

“Mengelola finger bisa membahagiakan orang lain, karena hasil pekerjaan kita digunakan untuk mencairkan uang makan, tunjangan kinerja, dan sertifikasi. Apalagi kita memfasilitasi orang lain agar bekerja dengan baik, disipllin sehingga hasilnya barokah,” lanjutnya.

Karena terkait dengan keuangan negara, maka pengelolaan fingerprint yang tidak benar, sehingga mengakibatkan kerugian pada negara, mengabaikan disiplin, menjadikan seorang pengelola fingerprint bekerja dengan tidak jujur dengan melakukan manipulasi data demi kepentingan sesaat. Menurut Ahmad Maskuri, hal inilah yang akan menyebabkan seorang pengelola fingerprint mudah masuk neraka karena melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama.

Ahmad Maskuri mengharapkan Pengelola Fingerprint bekerja secara profesional dengan berpedoman pada peraturan yang berlaku agar nyaman dan aman dalam bekerja.

“Bekerjalah yang profesional, memahami disiplin dengan tidak kaku sehingga bisa mengedukasi teman sejawat untuk bekerja dengan baik, tetapi juga tidak lemah, sehingga tidak dimanfaatkan untuk memanipulasi data kehadiran. Jadilah yang tengah-tengah, insyaallah itu akan baik,” lanjutnya.

Dalam pelatihan tersebut para operator diajarkan penggunaan alat fingerprint seperti mengelola menu dan mengambil sidik jari, kemudian instalasi program Attendance Management yang merupakan tool pengelolaan fingerprint di Kantor Kemenag Kab. Magelang. Setelah instalasi, operator belajar tentang pengaturan jam kerja, pengelolaan pegawai, membuat shift, dan penjadwalan pegawai.

Diharapkan setelah pelatihan tersebut, para operator mampu melakukan kehadiran guru pada madrasahnya menggunakan alat perekam elektronik/fingerprint. (am/bd)