Pengembangan kurikulum, kiat Madin tarik minat masyarakat

Rembang — Pola kurikulum yang diterapkan oleh madrasah diniyyah takmiliyah saat ini dipandang masih cenderung tradisional. Oleh karenanya, diperlukan adanya pengembangan kurikulum untuk mempertahankan minat masyarakat terhadap lembaga pendidikan non formal ini. Sejumlah strategi pun harus diterapkan, untuk mempertahankan eksistensinya.

Perihal tersebut menjadi poin penting dalam Sosialisasi Kurikulum Diniyyah Takmiliyah yang digelar oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, di Gedung Hemat, Kamis (12/11).

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Atho’illah mengatakan, kurikulum merupakan standar bagi lembaga madin untuk memberikan pola pembelajaran yang terbaik bagi santri. Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam penyampaikan pelajaran, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Kendati demikian, masih banyak kelemahan dan kendala yang dialami dalam penyelenggaraannya. Minimnya sarana dan prasarana menyebabkan pola pembelajaran masih bersifat konvensional. Untuk mengantisipasinya, ustadz/ustadzah harus bisa menerapkan pola pembelajaran yang menyenangkan dna tidak membosankan.

“Sebagaimana yang kita tahu, waktu belajar madrasah diniyyah yaitu antara jam 2 hingga jam 5 sore. Waktu tersebut sebenarnya bukanlah waktu yang efektif, karena santri madin sudah lelah belajar di sekolah umum atau madrasah pada pagi harinya, atau bekerja bagi yang tidak sekolah. Namun hal ini harus bisa disiasati oleh penyelenggara pendidikan, utamanya para ustadz/ustadzah madin, menciptakan suasana damai dan menyenangkan, sehingga santri bersemangat untuk berangkat ke madin,” papar Atho’illah.

Ditambahkan Atho’illah, bagaimana pun jua, keberadaan madrasah diniyyah takmiliyyah harus tetap dipertahankan. Hal ini mengingat lembaga ini merupakan lembaga pendidikan warisan ulama terdahulu, bahkan sudah ada sebelum pendidikan formal. Madrasah diniyyah takmiliyyah itu merupakan penyempurna pendidikan formal. Keberadaannya sangat penting untuk membentuk generasi bangsa yang berakhlakul karimah, berwawasan agama yang luas, sehingga degradasi moral bangsa bisa teratasi.

Sementara Ketua Forum Komunikasi Diniyyah Takmiliyyah Kecamatan Kragan, Ahmad Junaidi mengatakan, pengembangan kurikulum madin saat ini dirasa masih konvesional. Diperlukan penyesuaian agar minat masyarakat tetap bertahan. “Para pengelola pendidikan madin harus berani untuk membuat inovasi, merubah kurikulum yang ada. Jika tidak ingin ditinggalkan oleh masyarakat,” kata Junaidi.

Namun permasalahan yang masih terjadi, masih belum adanya sinkronisasi antara kurikulum yang diedarkan oleh Kementerian Agama dengan kurikulum yang dijalankan oleh masing-masing lembaga madin. Kurikulum antar madin pun tidak sama. “Ini lah yang menjadi PR FKDT untuk memadukan kurikulum Kemenag dan yang dijalankan oleh madin,” lanjut Junaidi.—Shofatus Shodiqoh