Pengetahuan Sebagai Penentu Utama Menuju Keluarga Samawa

Cilacap – Salah satu penyebab utama masih tingginya angka perceraian khususnya di Kabupaten Cilacap, diakibatkan oleh minimnya pengetahuan akan pentingnya fungsi sebuah keluarga. Sehingga kondisi tersebut menjadikan program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) dari Kementerian Agama sebagai kegiatan yang strategis. Hal ini didasarkan pada pangkal keberhasilan pencetak generasi terbaik bangsa adalah keluarga. Sehingga keluarga menjadi sangat urgen untuk ditingkatkan keutuhan dan keharmonisannya.

Sebagaimana ditegaskan Kakankemenag Kabupaten Cilacap, Jamun, Rabu(1/8) saat memberikan materi Bimwin di Gedung IPHI Kecamatan Nusawungu, bahwa keluarga merupakan akar dari seluruh keberhasilan pembangunan nasional. Menurutnya, hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia seutuhnya. Sedangkan modal pokok yang harus dipenuhi adalah pendidikan, padahal pendidikan pertama dan utama sebagai unsur pokok penentu kualitas manusia bersumber dari keluarga. Untuk itulah keluarga harus dibangun dengan pondasi yang kuat. Salah satu cara yang ditempuh pemerintah dalam hal ini melalui Bimwin.

“Hal pertama yang harus kalian semua ketahuai adalah bahwa untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah tidaklah mudah. Diperlukan pengabdian, perjuangan dan pengorbanan lahir batin. Karenanya, sebelum memasuki jenjang pernikahan idealnya harus sudah memiliki bekal pengetahuan yang memadai. Bekal pengetahuan saja pun belum cukup, masih diperlukan kesiapan mental dan semangat juang yang gigih dan tanpa penyerah. Untuk itu saya minta seluruh peserta Bimwin agar dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Sehingga walaupun dalam waktu yang terbatas ini, paling tidak dapat menambah bekal untuk menyiapkan keluarga yang terbaik,”katanya.

Dalam materinya diterangkan, timbulnya rasa saling membutuhkan antara laki-laki dan perempuan karena adanya perbedaan. Fakta di lapangan mengatakan bahwa sumber terjadinya kanflik karena perbedaan. Allah menciptakan mahluknya tidak ada satu pun yang sama. Hal inilah yang menjadi akar pembahasan dalam kegiatan Bimwin. Bagaimana Bimwin dapat memberikan pengetahuan yang cukup tentang teknis meramu perbedaan menjadi sebuah formula yang ampuh. Sehingga pasangan suami isteri betul-betul mampu merasakan hasil dari perkawinannya.

Pada akhir pemaparannya disebutkan, adanya rasa saling pengertian berasal dari pengetahuan yang telah diperoleh. Tanpa pengetahuan yang cukup tidak akan mungkin timbul rasa saling menghormati, toleransi dan kerja sama. Termasuk pengethuan hubungan seks yang hanya sekedar pada kontak fisik maka tidak akan bertahan lama. Paling banter tiga bulan, maka pasutri akan mengalami kejenuhan san bosan. Sementara kebutuhan materi selain makan dan minum semakin bertambah seperti memiliki sandang, rumah, tanah kendaraan dan lainnya. Melalui Bimwin semuanya dikupas meskipun dalam waktu terbatas, yakni dua hari tiap angkatan. Dia berharap, seperti apapun yang namanya usaha pasti akan ada hasilnya, yakni paling tidak dapat mengurangi angka perceraian.(On/bd)