Pentingnya Merawat Iman Pasca Islam Menjadi Keyakinan

Purbalingga – Rumah Zakat BAZNAS Kabupaten Purbalingga mempunyai perhatian khusus terhadap para mualaf. Perhatian ini menjadi penting karena ada rangkaian tanggung jawab yang luas guna membawa mualaf ke dalam Islam yang sempurna. Bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga yang mempunyai keterlibatan langsung dengan mualaf, BAZNAS Kabupaten Purbalingga bersinergi melaksanakan kegiatan Pembinaan Mualaf yang dibarengkan dengan kegiatan pentasyarufan zakat.  Kegiatan yang digelar di Rumah Zakat BAZNAS Purbalingga, Rabu (17/10) diikuti 7 orang mualaf. Pengasuh Pondok Pesantren Az Zuhriyyah Karangsentul, K.H. Nurkholis Masrur yang juga Staf Penyelenggara Syariah Kankemenag Kabupaten Purbalingga bertindak selaku pemateri.

Dalam pembinaannya, Nurkholis berpesan agar para mualaf mensyukuri nikmat Iman dan Islam yang telah mereka dapatkan.

 “Nikmat Allah yang terbesar adalah nikmat iman dan nikmat Islam. Karena tanpa adanya iman di hati, seseorang akan menjadi penghuni neraka selama-lamanya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW  yang artinya Tidak akan bisa keluar dari siksa neraka, seseorang yang di hati (mereka) tidak terdapat secuil pun iman. Ini berarti kita semua saat ini masih diberi nikmat besar oleh Allah SWT., ditetapkan menjadi orang yang beriman dan meyakini Islam, walaupun memiliki iman yang kelas terbawah,” terang Nurkholis.

Ia menambahkan, tingkatan iman ada 5. Tingkatan iman paling bawah adalah taqlid, ‘ilmu, ‘ayyan, haq dan tertinggi adalah haqiqat. Kebanyakan dari kita masih bercokol kepada iman taqlid, hanya mewarisi dari orang tua atau iman ikut-ikutan. Beriman kepada Allah dan Rasul tetapi kepercayaannya tanpa dalil, tanpa keterangan, tanpa ilmu pengetahuan. Imannya sah dan diterima oleh Allah SWT. Namun kategori orang dengan  iman taqlid, imannya tidak teguh dan mudah goyang.

“Iman bisa saja lepas dan sirna dari qolbu. Cara merawat iman agar tidak sirna dari qolbu adalah dengan mendekat kepada Ulama untuk menimba ilmu, karena ilmu adalah tiang iman. Sedangkan yang merobohkan iman adalah beramal tanpa ilmu,” tegasnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Karsono saat dihubungi secara terpisah menyampaikan bahwa membaca syahadat bukan akhir dari perjalanan seorang mualaf.

“Kita wajib membimbingnya, melindunginya, menjaga keimanannya dan memberikan keilmuan kita untuk bekal saudara kita yang mualaf agar ibadahnya benar. Kasihan kalau mereka beribadah tanpa ilmu. Kelak kita pula yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kelalaian kita,” pesannya. (sar/gt)