Penyuluh Agama Islam se-Kedu Dukung Pemilu Damai

Kebumen– Ratusan penyuluh agama Islam se-Eks Karesidenan Kedu menyampaikan pernyataan sikap dalam menghadapi pemilu serentak 17 April 2019 mendatang. Penyampaian sikap tersebut dilaksanakan pada pembukaan acara Rapat Koordinasi Penyuluh Agama Islam Fungsional se-Eks Karesidenan Kedu di Hotel Mexolie Kebumen, (19/2).

Ada lima pernyataan yang disampaikan oleh para penyuluh tersebut, diantaranya akan berperan aktif menjaga situasi yang kondusif, menolak segala bentuk berita bohong atau hoax, mengedepankan mufakat dan toleransi dalam rangka menjaga kebersamaan umat, berpartisipasi mensosialisasikan pemilu serta menolak segala bentuk politik uang atau money politic.

Turut hadir Staf Ahli Bupati Bidang Keuangan dan Pembangunan uwedi yang dalam kesempatan tersebut mewakili Bupati Kebumen KH. Yazid Mahfudz, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Imam Tabroni, serta Ketua KPUD Kebumen Yulianto.

Pada sambutan yang dibacakan oleh Suwedi, Bupati mengapresiasi penyelenggaraan rapat koordinasi penyuluh agama dan menyambut baik pernyataan sikap tersebut. Bupati juga berharap rakor yang diselenggarakan mampu menghasilkan keputusan yang berguna bagi kemaslahatan umat.

Sinergi Tiga Mantra

Kepala Kankemenag Kabupaten Kebumen, ImamTobroni dalam sambutannya mengingatkan Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) untuk memperkuat tiga mantra yang digalakan saat ini oleh Menteri Agama yakni moderasi beragama, kebersamaan umat serta integritas data.

Dia mengatakan bahwa rakor Penyuluh se-Eks Karesidenan Kedu ini sangat tepat. “Hari ini sangat tepat untuk membahas tema menjaga kebersamaan umat, karena Menteri Agama mengajak kita untuk bisa bersinergi dalam tiga matra agama tersebut,” tuturnya.

Terkait dengan menjaga kebersamaan umat, hal tersebut bisa tercapai jika penyuluh bisa menjaga moderasi agama. “Apalagi masa-masa pemilu ini sangat penting menjaga kebersamaan umat, karena saat ini bisa menjadi intrik politik bagi mereka yang belum dewasa dalam berpolitik,” ucapnya.

Menurutnya moderasi agama merupakan pemahaman agama yang moderat, tidak ekstrim kanan tidak ekstrim kiri. Ini yang akan dikembangkan Kemenag saat berkembangnya ideologi sebagai implikasi dari fenomena global indoktrinasi agama. “Moderasi agama akan melahirkan fenomena dan hubungan beragama yang akan menghadirkan sifat dasar tawassuth dan i'tidal, ini akan menjadi sifat dasar penyuluh,” paparnya.

“Saya yakin Penyuluh bisa menjaga itu, namun jika label agama digunakan untuk intrik politik maka itu akan bermasalah,” ucap Tobroni. Penyuluh agama merupakan bagian dari Kemenag yang rujukannya adalah Menteri Agama, sehingga menjadi ujung depan dalam memberikan informasi program-program Kemenag.(pt/Wul)