Penyuluh Kemenag Harus Siap 24 Jam

Semarang – Pada bulan Ramadan intensitas masyarakat untuk mengadakan kegiatan keagamaan meningkat baik berupa pelaksanaan ibadah puasa yang hukumnya wajib maupun ibadah sunah termasuk kegiatan kajian keagamaan. Meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam terhadap masyarakat merupakan tugas utama penyuluh agama Islam Kantor Kementerian Agama. Tak heran jika pada bulan Ramadhan tugas penyuluh agama sebagai juru penerang yang memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat juga menunjukkan peningkatan kuantitas.

Mustafirin, penyuluh agama Islam Kemenag Kota Semarang menyampaikan, dirinya seringkali kewalahan dalam melayani permintaan masyarakat untuk memberikan ceramah di berbagai komunitas dan majlis. “Biasanya pada peringatan hari besar agama seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’ Mi’raj dan peringatan lainnya selalu kebanjiran job, sehingga harus mengatur jadwal agar tidak berbarengan dengan acara lain. Demikian juga dengan permintaan ceramah di bulan Ramadan 1438 H tahun ini,” ujarnya.

“Untuk jadwal halal bi halal juga sudah banyak antrian. Penyuluh harus siap 24 jam kapan pun dibutuhkan masyarakat,” sambung Mustafirin yang berdomisili di daerah Tembalang.

Sebagai contoh, pada Jum’at dini hari (16/06) Mustafirin memberikan ceramah taushiyah pada kegiatan Sahur Bersama Jawa Pos Radar Semarang. Kegiatan yang disponsori oleh salah satu produk minuman ini diikuti oleh jajaran pimpinan Radar Semarang, wartawan dan karyawan serta berbagai komunitas organisasi dan aktivis mahasiswa perguruan tinggi. Acara bertempat di aula lantai 1 kantor Jawa Pos Radar Semarang Jalan Veteran Kota Semarang, dimeriahkan pula oleh grup rebana Mau’idhoh Sholawat dari Masjid Al Ikhlas Peterongan .

Mustafirin menuturkan, dengan acara tersebut kita bisa saling berbagi, menjalin silaturahmi dan menjaga keakraban di antara sesama. “Menurut panitia, buka bersama sudah lazim atau biasa diadakan tetapi acara sahur bersama jarang dilakukan, dan ini merupakan syi’ar Islam,” terang sang ustadz.

Di hadapan sekitar 100 peserta ia memaparkan kandungan sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dari Ibnu Abbas tentang golongan manusia yang dirindukan oleh sorga. “Ada 4 (empat) golongan manusia yang dirindukan oleh surga,” jelasnya. Dengan selingan joke-joke segar yang dilemparkannya membuat peserta antusias dan bersemangat untuk mendengarkan ceramahnya.

Keempat golongan itu adalah, pertama, taalil Qur’an, orang yang rajin membaca Al Quran. Membaca kitab suci Al Quran merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan. “Tidak hanya membaca, kita juga diperintahkan untuk mengkaji, memahami dan mengamalkan kandungan Al Quran dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Kedua, haafidzil lisaan, orang yang menjaga lisan. Lisan merupakan salah satu indra anugerah Allah SWT yang harus dijaga. Ia menerangkan menjaga lisan dapat dilakukan dengan cara selalu berkata baik dan tidak menyakiti orang lain. Pada hari akhir Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban terhadap lisan dan anugerah lain yang sudah kita terima.

Golongan ketiga yang dirindukan sorga adalah, muth’imil jii’aan, yaitu orang yang memberi makan kepada orang lain yang berpuasa. Dalam sebuah hadits dikatakan, orang yang memberi makan pada orang yang berpuasa, maka pahalanya sama seperti orang yang berpuasa tersebut.

Keempat, shooimin fii syahri romadhoon, orang yang berpuasa di bulan Ramadan. “Mumpung sekarang kita berada di bulan Ramadan maka manfaatkan Ramadan ini sebaik-baiknya karena belum tentu kita akan berjumpa kembali dengan Ramadan tahun depan,” pintanya.

Di akhir ceramah, ia mengajak hadirin untuk selalu meningkatkan ibadah dan amal kebajikan baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya. “Mari kita berlomba-lomba menuju jalan surga agar menjadi golongan umat yang dirindukan oleh surga,” pungkas Mustafirin.(ch/gt)