Penyuluh misil dakwah di masyarakat

Rembang — Penyuluh Agama Islam diminta tidak hanya memahami masalah agama saja. Namun harus mengikuti dan memahami berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, dan seluruh aspek kehidupan masyarakat. Utamanya isu-isu terkini yang tengah mencuat, seperti radikalisme, prostitusi online, narkoba, dan lainnya.

Demikian dikemukakan oleh Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, HM Mahmudi dalam rapat koordinasi penyuluh Agama Islam Kabupaten Rembang di mushola Al-Ikhlas Kemenag Rembang.

Menurut Mahmudi, dengan memahami seluruh persoalan-persoalan sosial yang kini tengah mencuat, maka penyuluh agama Islam dapat memberikan penerangan kepada masyarakat untuk mencegah hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama.

Salah satunya adalah paham radikalisme. Penyuluh harus mampu memberikan penerangan kepada masyarakat, bahwa radikalisme merupakan pemahaman terhadap agama secara sepotong-sepotong. Entah itu hanya tentang jihad saja, perang saja, atau pemerintahan saja, sementara unsur-unsur lain dikesampingkan.

“Penyuluh agama Islam merupakan salah satu ujung tombak masyarakat dalam memahami agama secara ‘kaffah’, menyeluruh, dan tidak sepotong-potong. Inilah yang perlu ditekankan untuk menangkal paham radikalisme”, katanya.

Selain itu, isu yang kini tengah marak adalah prostitusi online. Mahmudi meminta kepada segenap penyuluh untuk mencegah bahaya ini. Sebab, fenomena ini tak hanya merambah orang-orang dewasa, namun juga pelajar. Faktornya bukan hanya masalah ekonomi, tapi juga pola dan gaya hidup, sehingga mereka terjebak pada pergaulan bebas. “Di sinilah tugas penyuluh untuk memberikan dasar-dasar ajaran agama kepada masyarakat, termasuk pelajar akan pola dan gaya hidup remaja masa kini yang jauh dari norma-norma agama,” sambungnya.

Sementara Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam Kabupaten Rembang, Khiyarun Ni’am menambahkan, sudah saatnya penyuluh merubah paradigma yang ada di masyarakat. Menurutnya, agama tak melulu mencakup soal aqidah dan hukum syar’i. Namun juga masalah sosial, ekonomi, dan politik.

“Yang terjadi di masyarakat adalah, pada forum PKK atau PNPM misalkan, tidaklah tepat untuk membahas persoalan agama. Ini adalah paradigma yang salah. Sebab, agama sejatinya mencakup seluruh aspek kehidupan. Seperti bidang perdagangan, pertanian, bermasyarakat, dan lainnya”, urainya.

Oleh karena itu, dia meminta kepada segenap penyuluh untuk memahami persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, dari tingkat RT, desa, hingga kabupaten/kota. “Sehingga kesan yang muncul adalah, agama tak hanya milik ulama/kyai, namun seluruh masyarakat,” pungkasnya.—Shofatus Shodiqoh