Penyuluh Pimpin Mujahadah / Doa Bersama Warga Binaan Rutan Wonogiri

Wonogiri – Seksi Bimas Islam Kantor Kemenag Wonogiri setiap hari selasa pagi rutin menugaskan Penyuluh Agama Islam untuk mempimpin mujahadah/dzikir bersama para warga binaan di Rutan kelas IIb Wonogiri.

Tujuan kegiatan tersebut menurut Kasi Bimas Islam, H. Hidayat Masykur,  Kamis Pagi (08/03) agar warga binaan di Rutan bisa mendapatkan ketenangan jiwa serta merenung dan instropeksi diri akan apa dan bagaimana yang sudah dilakukan, baik menyangkut amalan dan ucapan yang sudah-sudah. Hal ini bertujuan untuk menata dan mereset mindset menuju lebih baik dan lebih religi lagi sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.

Selain itu kegiatan rohani tersebut  juga bentuk tidaklanjut dari nota Kesepahaman antara Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah dan Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Tengah Nomor : 1270/kw.11.3/PP.00.7/01/2018 dan W13.Dl.03.04-56 Tahun 2018 tanggal 24 Januari 2018.

Sebagai pelaksana lapangan di tugaskan penyuluh agama Islam, menurut Hidayat  karena mereka merupakan garda terdepan Kementerian Agama yang ruang kerjanya langsung berinteraksi dengan masyarakat dalam melaksanakan bimbingan agama Islam di tengah pesatnya dinamika kehidupan. Peranan mereka sangat strategis dalam pembentukan moral dan nilai ketakwaan umat demi meningkatkan kualitas kehidupan umat di berbagai bidang baik di bidang keagamaan maupun pembangunan termasuk warga binaan.

Sementara itu, Wahidin Penyuluh Agama Islam yang sering mendampingi warga binaan dalam doa bersama, menyampaikan bahwa dzikir / mujahadah untuk meningkatkan mental warga binaan pemasyarakatan sebagai salah satu upaya menwujudkan manusia yang insyaf dan bertobat secara totalitas, dan tidak mengulangi kesalahan yang telah ia perbuat sehingga ia masuk dalam penjara.

“Pada hakikatnya kita semua adalah berangkat dari suci, baik saya, kami, dan saudara-saudara semua warga binaan, baik yang ada disini maupun di Rutan lainnya, mari bersama-sama lebih giat dan maksimal lagi untuk mendekatkan diri dan pasrah pada sang Khaliq Allah SWT, untuk lebih memaknai dan mengapresiasi arti hidup yang sesungguhnya, dan pastinya tidak ada kata terlambat, tidak ada kata telat dan sia-sia semua pasti ada makna dan hikmahnya, pungkasnya,” ajak Wahidin. (mursyid_heri/Wul)