Peran Pesantren menangkal Paham Radikalisme dan ISIS

Blora – Pondok Pesantren memiliki peran strategis untuk menangkal paham radikalisme yang memecah belah persatuan umat , seperti Negara Islam Irak dan Syiria (ISIS) yang meresahkan masyarakat dewasa ini. Oleh karena itu, Pengasuh Pesantren harus mampu memberikan pemahaman tentang empat pilar bernegara yaitu pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika serta Islam yang Rahmatan lil Alamin yang senantiasa menyejukkan lingkungan.

Demikian disampaikan oleh Kapolres Blora melalui Bagian Bina Mental Polres Blora, AKP Sumedi, S.Ag pada acara Sosialisasi Penanggulangan paham radikalisme ISIS Pengasuh Pondok Pesantren Se-Kabupaten Blora kemaren (30/5) di aula Gedung NU Blora yang diselenggarakan oleh Seksi PD Pontren Kankemenag Blora dan dihadiri oleh sekitar 110 alim ulama pesantren di Blora.

Dalam acara yang dihadiri oleh sekitar 110 alim ulama pesantren di Blora,Sumedi juga menegaskan bahwa Fanatisme yang sempit seperti ISIS adalah akibat dari rendahnya pemahaman terhadap ajaran agama Islam yang seharusnya menebarkan kedamaian dan toleransi yang tinggi baik secara intern maupun antar umat beragama.

Selain itu, memang ada warga masyarakat yang bergabung dengan paham ekstrem hanya karena motif ekonomi, serta salah paham dalam ajaran agama.

Maka peran pesantren dan ulama menjadi hal yang sangat penting untuk membentengi berbagai paham ekstrem yang menyimpang di masyarakat dengan senantiasa memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada warga bagaimana ajaran agama Islam yang baik dan benar.

“Kyai seharusnya memberikan teladan, penyuluhan dan bimbingan ajaran agama yang baik dan benar sehingga masyarakat tidak mudah tertarik dengan paham yang jauh dari nilai nilai Islam”, ungkap Sumedi Serius.

Pihak Polres Blora sangat mengapresiasi apabila pesantren bisa selalu berkoordinasi dengan Polres apabila terjadi gejala kerusuhan dan konflik agama di masyarakat supaya sejak dini bisa dicegah meluasnya konflik sosial keagamaan.

“Upaya pencegahan lebih baik daripada pemberantasan, sehingga koordinasi lintas sektoral antara Pesantren, polres, pemerintah, tokoh agama dan masyarakat mari terus kita galakkan bersama dalam penanggulangan paham radikalisme ISIS”, pungkasnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Kankemenag Blora, Drs. H. Tri Hidayat yang menyatakan bahwa Kemenag melalui pendidikan juga hendaknya bisa memberikan pemahaman bagi peserta didik tentang hakikat agama yang benar,damai dan tidak merusak baik melalui sekolah formal madrasah dan sederajatnya sampai perguruan tinggi maupun non formal seperti pesantren.

Dan untuk mengatasi berbagai masalah fanatisme agama tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah, namun diawali dari masyarakat sendiri untuk meningkatkan wawasan agama supaya tidak menimbulkan keresahan masyarakat, karena wali Songo berdakwah juga dengan jalan damai.

Selain itu, dalam era modern saat ini kalangan pesantren juga harus memiliki peran media karena era modern saat ini mengandalkan penguasaan informasi.

“Generasi muda saat ini bertatap muka dengan orang tua hanya terbatas, maka dakwah melalui dunia maya dan internet perlu dioptimalkan dan pesantren harus memberikan pemahaman pendidikan yang baik bagi santri dan masyarakat di lingkungannya”, paparnya. (ima)