Peran Strategis Kemenag, dalam Membina dan Menjaga Persatuan didalam Perbedaan

Wonogiri – Akhir-akhir ini sejarah kemerdekaan makin tergerus oleh ganasnya arus informasi dan globalisasi. Persatuan dan kesatuan bangsa makin terancam oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Karenanya diperlukan penekanan pemahaman bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ada karena perbedaan. Salah satu hal yang paling menonjol adalah perbedaan keyakinan atau agama. Agama mempunyai peran memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan memelihara eksistensi suatu masyarakat.

“Di sinilah peran strategis Kementerian Agama dalam membina dan menjaga persatuan dalam perbedaan. Salah satu hal yang perlu diantisipasi adalah bahaya radikalisme yang mengancam persatuan. Untuk itu, Kemenag berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas kerukunan hidup umat beragama.” Demikian yang di sampaikan Pranata Humas Madya Kankemenag Wonogiri, H. Mursidi, ketika menjadi narasumber acara Sosialisasi Wawasan Kebangsaan Tingkat Kabupaten Wonogiri tahun 2018, di Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Kamis (30/08). Soasialisasi yang di ikuti anggota orkemas dan lembaga nirlaba di Kabupaten Wonogiri.

Menurutnya sebagai salah satu perwujudan penghargaan perjuangan ulama dan tokoh agama harus mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang positif. Pancasila sebagai dasar negara yang berhasil mempersatukan bangsa Indonesia harus dijiwai. Dengan jiwa Pancasila tersebut, maka bangsa Indonesia akan tetap berjaya.

“Negara Indonesia bukan Negara Agama dan juga bukan Negara Sekuler. Indonesia bukan Negara Agama artinya idiologi bangsa Indonesia bukan dari doktrin atau aquida agama tertentu, tetapi idiologi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Indonesia bukan negera sekuler, artinya bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius atau bangsa yang beragama,” tegas Mursidi.

Lebih lanjut, dalam tahun politik ini, peran agama sangat sentral karena isu agama bisa ditunggangi untuk kepentingan politik. Untuk itu para tokoh harus agama berperan betul sesuai dengan perannya untuk menjaga umat jangan sampai terganggu ke kondusifannya. Kepada seluruh tokoh agama, dan pemimpin umat untuk tidak terpengaruh pada politik yang dapat merusak kerukunan.

“Kepada masyarakat dan tokoh masyarakat untuk arif dan bijak menggunakan media sosial yang saat ini cenderung sebagai alat provokasi dan saling menyerang karena perbedaan pilihan politik, untuk itu kembangkan jiwa yang bijaksana di tahun politik ini,” imbuhnya. (Mursyidi-Heri/Sua)