Perawat jenazah jangan takut merawat mayat penderita HIV/AIDS

Rembang — Sebanyak 791 perawat jenazah Kabupaten Rembang mendapatkan honor dari Pemerintah Kabupaten Rembang untuk periode Juli-Desember 2014. Pembagian honor tersebut bebarengan dengan pembinaan perawat jenazah yang diselenggarakan pada Senin (22/12) di Pendopo Lama Kabupaten Rembang.

Hadir dalam acara tersebut Plt Bupati Rembang, H. Abdul Hafidz, Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Setda Rembang, Drs. H. Abdullah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang yang diwakili oleh Penyelenggara Pembinaan Syari’ah, Dra. Tri Mulyani, segenap Kepala KUA Kecamatan se-kabupaten Rembang, dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutan pembinaannya, Abdul Hafidz mengimbau kepada segenap perawat jenazah untuk senantiasa ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Sebab, tugas yang diemban sangatlah mulia.

Perawat jenazah atau yang lebih populer disebut ‘mudin’ di kalangan penduduk Rembang merupakan tangan panjang dari pemerintah untuk menjalankan tugas, salah satunya adalah merawat jenazah.

Beliau juga mengimbau kepada mereka untuk tidak takut mengurus jenazah yang mengidap HIV/Aids. Dijelaskannya, pada dasarnya HIV/Aids tidak menular melalui sentuhan. Melainkan melalui virus maupun transfusi darah. Selain itu juga melalui jarum suntik dan narkoba.

“Jadi tidak ada alasan untuk takut atau khawatir tertular HIV/Aids,” tandasnya kepada peserta yang rata-rata sudah berusia lanjut tersebut.

Beliau juga berpesan kepada segenap peserta pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya untuk waspada terhadap HIV/Aids. Sebab, penderita penyakit ini kian meningkat saja. Bahkan sudah termasuk dalam kondisi darurat, sama halnya dengan narkoba.

Oleh karena itu, beliau mengimbau kepada orang tua, ketua RT, Ketua RW, Kepala Desa, hingga tingkat pemerintah yang lebih tinggi untuk selalu mengupayakan masyarakat terhindar dari HIV/Aids.

Sementara itu, Drs. H. Abdullah mengatakan, pemberian honor ini merupakan bentuk perhatian pemerintah. Pihaknya akan telah berupaya memberikan yang terbaik, salah satunya adalah menaikkan nominal honor dari Rp 50 ribu pada tahun 2013 menjadi Rp 75/bulan pada tahun ini. “Semoga tahun depan bisa naik lagi,” ungkapnya.

Salah satu perawat jenazah asal Desa Sendangcoyo, Lasem Kurnadi mengatakan, pemberian honor ini merangsang masyarakat untuk maksimal dalam menjalankan tugasnya. Namun, hal tersebut bukanlah niat utamanya. “Melayani masyarakat dan menjalankan tugas yang dipercayakan oleh masyarakat itulah yang utama,” tukasnya.—Shofatus Shodiqoh