Peringati Hari Santri, Gelar Festival Hardroh dan Pengajian Akbar

Wonogiri – Rangkaian acara digelar pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Wonogiri untuk memperingati Hari Santri Nasional, salah satunya dengan Pengajian Akbar di halaman Kompleks Terminal Giri Adipura Wonogiri, Sabtu (14/10) yang di hadiri ribuan umat muslim di wilayah kota gaplek.

Kegiatan yang mengusung tema “Meningkatkan Peran Santri dalam Bela Negara Menjaga Pancasila dan NKRI” ini dihadiri oleh Bupati Wonogiri yang diwakilkan oleh Edi Sutopo, Habib Ahmad Al Munawar dan Habib Fauzi Al Munawar dari Kendal, Ketua MUI Wonogiri KH. Abdul Azies Mahfuf, Ketua DPRD Kabupaten Wonogiri Setyo Sukarno, Komandan Kodim yang diwakilkan Kasdim 0728/Wonogiri Mayor Inf Handoko Setyo Budi, Ka. Kankemenag Wonogiri dan  Forkopincam Wonogiri kota.

Ketua panitia Slamet Riyadi menyampaikan, pihaknya berterimakasih kepada Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan semua umat muslim yang sudah telah mendukung acara peringatan Hari Santri tahun ini.

“Serangkaian acara sudah kami selenggarakan, seperti festival hadroh, rukiyah, jalan sehat dan upacara peringatan Hari Santri Nasional. Semua rangkaian acara tersebut mudah – mudahan bisa menambah syiar  di Wonogiri,” ungkapnya, Sabtu (15/10) malam.

Bupati Wonogiri yang di wakili Assisten Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Edi Sutopo mengatakan, tantangan terbesar Indonesia adalah menjaga NKRI dalam kebhinekaan. Karena berbhineka tunggal ika sudah menjadi kesepakatan bersama Bangsa Indonesia.

“Itu yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain, karena ada kelompok di dalam negeri maupun di luar negeri yang tidak senang ingin mengganti Pancasila,” tegasnya.

Sedangkan Ka. Kankemenag Wonogiri, H. Subadi menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri 2017. Gelaran kali ketiga ini mengusung tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia. Dengan tema tersebut menegaskan bahwa pesantren tidak bisa dipisahkan dari fenomena Keislaman, Keindonesiaan, dan Kebudayaan masyarakat Indonesia. Kekhasan inilah yang menjadi kekuatan untuk menopang keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pesantren menurut H. Subadi disamping membekali ilmu agama (tafaquh fiddin), mengkader ulama yang nasionalis juga membekali santrinya menjadi warga negara yang baik, bagaimana hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain melalui pergaulan dari berbagai latar belakang budaya.

“Pesantren memiliki berkontribusi besar terhadap munculnya semangat dan nasionalisme Keindonesiaan yang tidak terbantahkan dalam rentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia,” imbuhnya. (Heri_Mursyid)