Peringati Isra Mi’raj, Ka Kankemenag Didaulat memberikan Tausiah

Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Pemerintah Kabupaten Boyolali menyelenggarakan pengajian dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.  Acara yang digelar di Masjid Ageng Kompleks Kantor Terpadu Kabupaten Boyolali tersebut berlangsung pada Kamis (04/05) dihadiri oleh Wakil Bupati Boyolali, Kepala Pengadilan Agama Kab. Boyolali, Kapolres Boyolali dan Komandan Kodim serta diikuti oleh perwakilan dari Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Kabupaten Boyolali, Anggota Polri, Anggota Kodim, pelajar, mahasiswa dan masyarakat sekitar.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Boyolali, M. Said Hidayat menyampaikan bahwa momentum peringatan isra’ mi’raj ini adalah kesempatan bagi kita untuk berpikir tentang kehidupan. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan nabi tersebut. Ibadah Sholat sebagai buah dari isra’ mi’raj wajib dijalankan oleh seluruh pemeluk agama islam tanpa memandang suku, ras, status maupun jabatan seseorang. Tidak ada perbedaan solat antara wakil bupati dengan pegawai, polisi dengan masyarakat, hakim dengan pengacara.  Yang ada hanyalah tingkat ketakwaan kita kepada Tuhan YME.

“Dalam ibadah tidak ada perbedaan, yang ada tingkat ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa”, ungkapnya.

Sementara itu, Ka Kankememnag Kab Boyolali, Nurudin yang didaulat memberikan tausiah sekaligus doa menyampaikan bahwa isra’ mi’raj sebagai perjalanan yang agung seorang rasul untuk menerima perintah langsung dari Tuhannya tentunya bukan sebuah perjalanan yang singkat dan mudah. Banyak sekali kejadian yang ditemui oleh Nabi Muhammad SAW pada saat melaksanakan isra’ mi’raj. Tentunya kejadian tersebut bukan sebagai penghalang tetapi lebih sebagai pelajaran untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Sholat sebagai perintah langsung dari Allah SWT kepada ummat Islam melalui Nabi Muhammad SAW adalah ibadah yang sangat spesial”, lanjut Nurudin.

Diturunkannya perintah sholat tentunya melalui proses yang panjang. Tidak serta merta sholat yang sekarang kita jalankan 5 waktu ini pada saat diturunkan langsung berbentuk 5  waktu. Ada proses yang harus dijalani untuk mencapai jumlah 5 waktu tersebut. Proses masukan, pertimbangan dan permohonan yang harus dilalui agar sholat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW seperti yang kita jalankan saat ini.

Selanjutnya, Nurudin menghimbau agar kita semua meningkatkan kualitas sholat yang dijalankan. Tidak hanya kuantitas yang ditingkatkan, tetapi juga kualitas sholat sebagai ibadah seorang hamba kepada Tuhannya harus ditingkatkan.

“Karena sholat adalah amal yang pertama kali di hitung pada hari kiamat besok, Sesuai dengan sabda nabi, “Awwalu ma yuhasabu bihil-abdu yaumal-qiyamah ashsholah” yang artinya: amal ibadat seorang hamba yang pertamakali di tanya, dihisab pada hari kiamat adalah sholatnya”,pungkasnya. (jaim/wul)