Peringati Milad, MAN Wonogiri gelar pentas seni simpatik

Wonogiri – Untuk mewujudkan motto “Madrasah lebih baik lebih baik madrasah” serta membuktikan bahwa saat ini madrasah sudah menjadi primadona dan pilihan masyarakat, MAN Wonogiri mengadakan kegiatan kreatif dan simpatik yaitu pentas seni eksternal dan pembagian souvenir milad MAN Wonogiri ke-22 dalam acara car free day Wonogiri, minggu (25/10) di jalan Sudirman Wonogiri, acara tersebut mampu menyedot animo ribuan pengunjung.

Kegiatan tersebut sebagai ajang publikasi dan menajamkan eksistensi MAN Wonogiri di mata masyarakat Wonogiri, serta membumikan program panca prestasi madrasah, yakni prestasi dalam bidang akhlak mulia, ilmu agama, sains dan teknologi, bahasa dan budaya, olah raga dan seni.

Menurut Kepala MAN Wonogiri, Nuri Hartono kegiatan yang di kemas dengan tema “Tingkatkan prestasi menjadi madrasah idola kebanggaan Wonogiri” tersebut sebagai ajang hiburan kepada pengunjung car free day serta mengenalkan eksistensi madrasah terhadap pengembangan seni dan budaya jawa. Adapun yang di tampilkan dalam acara tersebut hadrah, penampilan band dan pertunjukan kethek ogleng yang semua di tampilkan oleh siswa MAN.

Adapun rangkaian kegiatan milad ke-22 MAN Wonogiri selain acara tersebut juga meliputi lomba futsal antar kelas dan guru, lomba kasti antar kelas dan guru serta madrasah singer dan pentas seni internal.

Nuri Hartono mengatakan bahwa, “Lulusan madrasah terbukti mempunyai kelebihan di banding dengan sekolah umum. Madrasah lebih berorientasi pada pendidikan moral atau akhlaq yang mampu mencetak generasi sholeh – sholehah tanpa meninggalkan ilmu umum, secara empiris bisa di lihat dan di rasakan banyak alumni yang madrasah yang menjadi menteri, gubernur, bupati dan walikota.”

Penekanan pendidikan akhlaq merupakan sebuah upaya madrasah dalam menjaga moral generasi sekarang yang telah mengalami penurunan, saat ini banyak di tampilkan di media massa generasi muda yang melakukan perbuatan asusila, curat, miras, begal dan lebih tragis lagi ada yang melakukan perbuatan asusila atau kekerasan yang di lakukan di lembaga pendidikan itu sendiri.

Untuk itu Nuri beharap masyarakat memasukkan putra-putrinya bersekolah di madrasah utamanya Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonogiri karena ada keseimbangan EQ dan IQ antara intelektual dan spiritual, cerdas otaknya tapi hatinya bersih insaallah mempunyai amal yang lurus dan tetap uri-uri budaya jawa.

Madrasah juga berusaha untuk mendidik para siswa yang belajar pada Madrasah tersebut yang diharapkan dapat menjadi orang-orang yang mendalam pengetahuan keislamannya disatu sisi serta mendalam penguasaan informasi dan tekhnologinya disisi yang lain. Madrasah juga berperan melakukan transfer ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi al-din) dan nilai-nilai Islam (Islamic vaues), sehingga mampu memainkan peranan sebagai agen perubahan (agent of change). (Mursyid _ Heri)