Perjuangan Ratna yang Tiada Henti sebagai Penyuluh Teladan

Purworejo – Seleksi Penyuluh Teladan Tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah berlalu. Kabupaten Purworejo cukup berbangga karena penyuluh agamanya berhasil menyabet juara ketiga untuk kategori inovasi bebas buta aksara Al Qur'an, yang diraih atas nama Ratna Ulfatul Fuadiyah, S.Th.I. yang menampilkan berbagai kegiatan Majelis Ta’lim (MT) di bawah asuhannya. Wanita kelahiran Kota Malang ini menuturkan perjalanan singkat terbentuknya MT dan kegiatan yang selama ini dilaksanakan.

Ratna menetap di Purworejo sejak 2007 dan awalnya mengajar TPQ di komplek sekitar rumahnya. Tidak puas dengan hanya mengajarkan TPQ, Ratna mulai memberikan materi fiqih. Semakin hari ternyata semakin banyak peminatnya, bahkan termasuk ibu-ibu. Hingga di tahun 2015 didirikanlah Majelis Ta'lim Wal Qur’an Nur Iman.

Khotmil Qur’an angkatan pertama, Ratna meluluskan 8 remaja dan 4 orang ibu dalam bidang bin nadri 30 juz dan bil ghoib juz 30. Saat sang suami dipanggil oleh Yang Maha Kuasa di pertengahan tahun 2016 pun, semangatnya mengajarkan masyarakat mengaji tidak surut. Bahkan, pada tahun 2017 peserta khotmil Qur’an meningkat hingga berjumlah 23 orang.

Kini, kajian Majelis Ta'lim Wal Qur’an Nur Iman sudah sangat variatif. Mulai dari BTQ, Fiqih, Tilawah dan Tahfidz. Kajian Kitab hadits Riyadus Sholihin, mujahadah (Rotibul Hadad, Tahlil, Asmaul Husna) sholawat bersama bahkan hadroh pun ada.

Ratna yang juga sebagai Ketua MT Choirun Nisa di Masjid At Taqwa Perum Pepabri Borokulon ini juga berupaya menggerakkan ekonomi jemaahnya. Adapun kegiatan ekonomi yang sudah berjalan adalah infak produktif. Setiap awal bulan, ibu-ibu jemaah pengajian ini berinfak sebesar lima ribu rupiah. Infak tersebut kemudian dikumpulkan untuk dipinjamkan kepada jemaah tanpa bunga. Tujuan kegiatan ini untuk menghindarkan jemaah dari pinjaman berunsur riba di masyarakat khususnya “bank plecit”.

Kegiatan lain adalah One Day One Garbage yaitu kegiatan pengumpulan sampah an organik dengan cara menghimbau jemaah dari berbagai usia untuk membawa sampah setiap datang ke pengajian. Sampah-sampah ini dikumpulkan dan disetorkan ke bank sampah yang dikelola oleh kelompok wanita tani “anggrek asri” perumahan Pepabri Borokulon. Nantinya, hasil yang diperoleh dipergunakan untuk keperluan majelis ta'lim.

Kegiatan yang tak kalah menariknya adalah agrobisnis, yaitu bertanam sayuran oleh santri remaja. Hasilnya baik berupa sayur siap olah ataupun bibit tanaman, dijual untuk kebutuhan masyarakat sekitar dan keuangan kembali kepada kas majelis ta'lim.

Berkat ketekunan tersebut, beberapa kali majelis ta’lim ini mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah, baik berupa bibit tanaman maupun benih lele. Ratna memiliki harapan untuk ke depan semoga majelis ta’lim yang dibinanya dapat terus berkembang di banyak bidang sehingga keberadaannya membawa kebaikan bagi masyarakat. Tentunya tanpa dukungan dari masyarakat sekitar dan pemerintah setempat hal tersebut tidak akan terwujud. Untuk itu, harapan selanjutnya adalah dukungan dari berbagai unsur baik ulama, pemerintah dan masyarakat. (wor-sgy/sua)