Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo saat memberikan arahan pada acara Doa Bersama Lintas Agama pada Rabu (14/07).

Pesan Gubernur : Hubungan Umat Dengan Sang Khalik Itu Hubungan Individual

Semarang (Humas) – Acara Pray From Home, Doa Bersama Lintas Agama yang diinisiasi oleh FKUB Jawa Tengah bersama Kanwil Kemenag Prov. Jateng pada Rabu (14/07) dihadiri langsung secara daring oleh Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, Ganjar Pranowo menyampaikan apresiasi kepada kawan-kawan dari FKUB yang telah menggelar acara hari ini untuk kebaikan bangsa dan bahwasannya ikhtiar batin kini menjadi sangat penting untuk dilakukan seluruh umat.

“Ikhtiar lahirnya sudah dilakukan, yuk sekarang kita ketuk langit, kita punya nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, sebab seberapapun hebatnya seorang manusia tetap lemah dihadapan Tuhan, ini berarti kita perlu untuk terus berdoa kepada Tuhan,” tutur Ganjar.

“Saat ini rumah sakit sudah penuh dan oksigen juga mulai habis, dengan penambahan jumlah tempat tidur atau jumlah oksigen tidak akan pernah mencegah atau menghambat penularan covid-19. Yang dapat mencegah ya kita sendiri, dengan cara menerapkan protokol kesehatan yang ada,” imbuhnya.
Ganjar juga menekankan bahwasannya masyarakat sudah memahami pentingnya protokol kesehatan 5M.

“Sekarang hilangkan 5M nya, sekarang cuma ada 1M, yaitu manut. Dalam kemanutan ini pasti ada rasa sedih, tidak bisa melakukan kegiatan dengan leluasa, tidak bisa ibadah dari rumah-rumah ibadah, maka dari itu mari kita hadirkan suasana rumah ibadah di rumah masing-masing,” tutur Ganjar.

“Kita tunjukan bahwa hubungan kita dengan sang Khalik adalah hubungan individual dan kekhusuknya hanya kita sendiri yang menentukannya,” tegasnya.

Ganjar juga mengajak seluruh umat untuk dapat intropeksi diri dan para tokoh-tokoh agama menjadi sangat penting supaya dapat memberi penjelasan kepada umat tentang kebenaran yang ada.

Kegiatan utama dari acara hari ini yakni untaian doa dari para tokoh lintas agama yang dimulai dari agama Konghucu oleh Ws. Andi Gunawan, lalu dilanjutkan dari agama Hindu oleh Pinandita Agung Ketut D, dari agama Buddha oleh Bhikkhu Cattamano Mahathera, dari agama Kristen oleh Pendeta Emeritus Ekalasa Purwibawa, dari Islam oleh Gus Imam Fadhilah dan yang terakhir dari agama Katolik oleh Romo Parso Subroto. (pqq)