Pesan Pelayanan Prima dalam Tembang Mijil

Purbalingga  – Ada pesan bagus dari leluhur kita di Tanah Jawa ini yang sesuai untuk diterapkan dalam rutinitas kerja kita sehari-hari terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.  Pesan tersebut tersurat dan tersirat pada salah satu tembang Macapat yaitu Mijil. Hal tersebut disampaikan Penyelenggara Zakat dan Wakaf H. Sarif Hidayat saat memberikan amanat kepada peserta Apel Pagi di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Selasa (8/6/2021).

Dengan menyenandungkan sebait tembang yang termasuk kelompok Tembang Macapat tersebut Sarif menjelaskan makna yang tersurat dan tersirat di dalamnya.

Menurutnya, dedalane guna lawan sekti bermakna bahwasanya hidup itu tidak sekedar makan minum dan berkembangbiak namun harus mencari sebuah kemuliaan, memiliki nilai dan kebermanfaatan.

“Dan salah satu kunci kesuksesan dalam hidup itu kudu andhap asorharus rendah hati, merendahkan perasaan (nglembah manah) bukan rendah diri,” ungkapnya.

Andhap asor berarti menempatkan diri kita pada posisi di bawah. Menempatkan diri kita dengan baik sesuai dengan lingkungan masing-masing, berakhlak baik dengan siapapun serta menghormati dan menghargai orang lain.

“Termasuk para tamu yang hadir membutuhkan pelayanan di kantor kita,” ujarnya.

Sedangkan wani ngalah dhuwur wekasane, lanjutnya, bermakna berani untuk mengalah. Makna mengalah di sini diintepretasikan sebagai ajaran untuk sabar dan tidak egois.

“Bagaimana mengendalikan diri sendiri, memimpin diri sendiri itulah arti mengalah. Jadi ketika menghadapi tamu yang sudah kita arahkan tetapi tetap ngeyel ya kita yang harus mampu mengendalikan diri,” pesannya.

Adapun pesan tumungkula yen dipundukani secara harfiah bermakna jangan membantah bila kita dimarahi.

“Dimarahi bisa oleh orang lain, oleh atasan saat kita salah dan ditegur. Maka kita perlu mengintrospeksi diri dan memperbaiki kesalahan tersebut,” jelasnya.

Bapang den simpangi dan ana catur mungkur mengandung pesan agar kita menjauhi sikap hura-hura, sikap pragmatis, pencitraan, sifat suka dipuji. Atau dalam Islam menjalankan sikap qonaah dan menghindari pergunjingan, menghindari keburukan , perkataan kotor dan lebih fokus pada kebaikan yang bisa kita kerjakan (bekerja, berkarya nyata), pungkasnya. (sar/bd)