PTKIN Harus Membangun Critical System Thinking

Semarang, Arus globalisasi yang tanpa batas sangat berakibat fatal apabila tidak mempunyai jiwa yang kritis terhadap segala sesuatu informasi dari hasil komunikasi. Sebagai lembaga pemerintah harus sering melakukan evaluasi terhadap rencana dan pelaksanaan program yang telah disusun, supaya dalam melakukan sistem pelayanan memenuhi standart.

Kegiatan Orasi Menag, (31/17) di Kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin menyatakan, arus reformasi, komunikasi dan globalisasi yang kita hadapi sudah mengalami loncatan yang sangat jauh, maka dengan derasnya informasi kita harus melakukan tabayun, konfirmasi lebih baik lagi memverifikasi baik melalui narasumber dan leterasi rujukan tulisan baik buku dan kitab-kitab klasik, jelas Menag.

Dengan ikrar Wisudawan Menag mengapresiasi kepada alumni supaya mampu mengisi seluruh konteks perkembangan informasi yang positif, dan sekaligus mampu membuat informasi yang produktif terutama dalam menjaga negara. Maka membangun critical system thinking baik mahasiswa dan alumni harus mampu memahami konsep crtical system, supaya dalam pelaksanaan hasil keilmuan yang dimiliki akan membawa citra PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) menjadi baik untuk Kementerian Agama, tandas Menag.

Maka secara otomatis, dalam pelaksanaan untuk mentransfer berita saat ini kita harus teliti, validasi sebagaimana yang dilakukan tokoh hadits Imam Bukhori, yang dikenal alim, sholeh dan dlobit sekaligus konsisten dalam membawakan sanad hadits, ungkap Lukman Hakim Syaifudin.

Dengan kecapakan Imam Bukhori dan tambah Menag; “seorang perowi/musanid jangan sampai membohogi diri sendiri sebab kalau itu terjadi akan kehilangan sifat ikhlas, alim dan sholehnya”, ujar Menag.

Kembali ke bangunan critical system thingking yang ada di UIN Walisongo sangat mungkin ke depan untuk menjadi UIN yang berprestasi, terutama harap menteri UIN Walisongo sebagai PTKIN harus mampu mempelopori islam moderat sebagai pijakan, sebab dengan keragaman dan akhirnya mampu menjaga pluralitas maka bangsa Indonesia ikut dan mampu berpartisipasi dalam menata peradaban dunia, terang Menag.

Semua agama di nusantara ini kata; Menag adalah agama yang berfaham moderat maka sekiranya PTKIN menjadi terdepan untuk mengusung moderasi di tengah-tengah zaman global, tehnologi, dan komunikasi yang begitu cepat serta banyak nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai faham NKRI.

Seyogyannya, sambung Menag perkembangan yang saling ta’asub, mengkafirkan seharusnya tidak ada karena masalah agama termasuk khilafiyah dan ijtihadiyah, dan Kemenag RI merekomendasi untuk mengusung faham moderasi, sebab keaneragaman merupakan sunatullah dan ini lebih hebat tidak dijumpai di negara lain, pungkas Lukman Hakim Syaifuddin.(ali)