Reformasi Moral Ciptakan Akhlak Mulia

Semarang – Peringatan Isra’ Mi’raj merupakan bagian dari implementasi reformasi moral pada generasi muda yang mandiri dan berakhlakul karimah. Anak-anak perlu diberikan pemahaman tentang perjalanan dan hikmah peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Demikian disampaikan Suwakir Kepala SMPN 22 Kota Semarang dalam sambutannya pada kegiatan Isra’ Mi’raj di halaman sekolah setempat, akhir pekan lalu, Sabtu (15/04).

Peringatan Hari Besar Keagamaan ini mengusung tema Revolusi Moral Ciptakan Generasi Muda yang Mandiri dan Berakhlak Mulia. Kepala Sekolah berharap dengan memperingati hari besar agama Islam ini, dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan sekaligus menciptakan pribadi siswa yang mandiri dan berakhlak mulia sesuai dengan tema kegiatan.

Pengawas PAI Kemenag Kota Semarang, Fatkhuronji menjelaskan bahwa peringatan Isra’ dan Mi’raj pada bulan Rajab ini menunjukkan akan kebesaran Allah SWT dalam menyelamatkan umat manusia dari belenggu kekafiran, kebejatan moral dan kerusakan mental.

“Kita harus bersyukur kepada Allah, bahwa tidak banyak umat manusia yang mengetahui dan memahami tanggungjawabnya sebagai orang Islam, yakni menjalankan Rukun Islam dan Rukun Iman. Oleh karena itu kegiatan ini sangat tepat jika dijadikan sebagai momentum untuk instrospeksi dan evaluasi diri,” ujar Fatkhuronji.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa SMP N 22 dan semua guru serta karyawan. Hadir pula pada acara tersebut, komite sekolah, perwakilan dari Polsek dan Koramil Gunungpati serta tokoh masyarakat. Sebagai puncak acara diisi dengan pengajian oleh KH. Habib Romli dari Bebengan Boja Kendal. Dalam tausiahnya disampaikan tentang makna Isro’ dan Mi’roj.

“Isro’ itu adalah perjalanan Nabi Besar Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsho. Sedangkan Mi’roj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsho menuju Sidratul Muntaha. Hal ini sudah diterangkan dalam Firman Allah Surah Al Isra’ ayat 1,” terang Romli.

Terkait dengan hikmah peristiwa Isra’ Mi’raj berupa sholat lima waktu, Romli menguraikan bahwa dalam sholat terdapat tiga gerakan utama yakni, berdiri, rukuk dan sujud. Ketiga gerakan itu jika dikaitkan dengan kesehatan jiwa dan rohani akan mengatur keseimbangan manusia dalam kehidupannya. Semua makhluk hidup butuh peredaran darah dan gerakan sholat mengatur keseimbangan kehidupan manusia. Gerakan sholat ibarat olahraga yang teratur, dapat mengaktifkan organ dan otot tubuh kita. Ia mengajak para siswa untuk giat melakukan sholat, utamanya sholat lima waktu karena disamping merupakan Rukun Islam kedua, sholat juga dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar sesuai dengan revolusi moral yang dapat menciptakan akhlak mulia. (ftkhrj-ch/gt)